Sidrap, katasulsel.com — Aula Tathya Dharaka Polres Sidrap, Rabu sore kemarin, tidak hanya dipenuhi aroma takjil dan suara sendok beradu piring. Ada pesan yang lebih kuat dari sekadar buka puasa bersama.

Anak-anak yatim duduk di barisan depan. Santunan diserahkan.

Wajah-wajah polos itu menjadi pusat perhatian. Wakapolres Sidrap, Kompol Sumardi SH, mewakili Kapolres AKBP Dr. Fantry Taherong, S.H.,. S.I.K.,M.H menegaskan bahwa Ramadan harus dimaknai dengan aksi nyata.

Polisi, katanya, tak hanya hadir saat ada persoalan hukum. Tapi juga dalam sentuhan sosial.

Suasana sebenarnya sudah hangat. Tapi menjadi lebih cair ketika MC memanggil satu nama: Edy Basri., S.H

Ketua Kolaborasi Jurnalis Indonesia (KJI) Sulsel itu melangkah ke depan. Sambutannya singkat. Tidak bertele-tele. Tapi isinya padat.

Edy langsung ke pokok persoalan.

Faktanya, kata dia, hubungan jurnalis dan Polres Sidrap hari ini sudah sangat baik. Sangat bersinergi. Tidak ada sekat kaku. Tidak ada komunikasi yang buntu.

“Kemitraan kita sudah sangat baik. Ini harus dijaga, jangan dirusak lagi. Itu terlihat dari pemberitaan teman-teman jurnalis di Sidrap,” pesannya.

Kapolres dan pejabat utama (PJU) lainnya, sambungnya, juga tidak menutup ruang kritik. Justru di situlah letak profesionalitas.

“Ya, meskipun ada kritik soal kinerja, itu hanya beberapa persen saja. Tapi itu tetap penting untuk lebih baik lagi ke depannya. Selebihnya, kami mengakomodir kegiatan-kegiatan kepolisian,” katanya.

Aplaus pun pecah.

Kalimat itu sederhana. Tapi pesannya jelas: pers tetap menjalankan fungsi kontrol. Polisi tetap membuka ruang komunikasi. Kritik bukan untuk menjatuhkan. Sinergi bukan untuk saling melindungi secara membabi buta.

Inilah pola hubungan yang matang.

Di banyak tempat, relasi polisi dan wartawan sering tegang. Di Sidrap, frekuensinya tampak lebih stabil. Ada kritik. Ada klarifikasi. Ada kerja sama.

Ramadan sore itu seperti menegaskan ulang komitmen tersebut.

Anak-anak yatim menerima santunan. Polisi menunjukkan empati. Wartawan menyampaikan sikap profesional.

Dan di antara takjil, doa, serta percakapan ringan, satu hal terasa jelas: kemitraan yang baik bukan dibangun dari pujian semata, tetapi dari keberanian untuk tetap saling mengingatkan—tanpa kehilangan rasa hormat. (*)