Tipue Sultan — Sulsel Editor
Redaktur Katasulsel.com, mengawal isu publik dan pembangunan daerah
Artikel: 534 Lihat semua

Medan, katasulsel.com – Kota Medan tiba-tiba mencekam. Sebuah boks memuat jasad RS, 19 tahun, ditemukan di salah satu penginapan.

Sederhana tapi mengerikan. Di balik penemuan itu, ada cerita sakit hati, kekerasan, dan kebejatan manusia yang sulit diterima akal sehat.

Pelakunya, Syawal Ardiansyah alias SA, juga 19 tahun, menangani korban dengan cara kejam.

“Dia dipiting, lehernya dililit selendang,” kata Kapolrestabes Medan, Kombes Jean Calvijn Simanjuntak, saat konferensi pers, Selasa (17/3/2026).

Bukan sekadar itu.

SA juga melakukan kekerasan seksual terhadap RS saat kondisi korban sudah kritis.

Sebelumnya, mereka memang sempat berhubungan intim, tapi SA meminta hal-hal yang tidak wajar, ditolak korban, dan berakhir tragis.

Ya

Pelaku, masih remaja, disebut polisi bertindak karena sakit hati. Tapi sakit hati macam apa yang bisa melahirkan kekejaman seperti itu? Kota Medan kini diam, tapi rasa takut membekas.

Penginapan tempat RS dibunuh menjadi sorotan. Sebuah tempat sepi, tapi menyimpan cerita kelam yang tak terlihat oleh mata pengunjung biasa.

Di sinilah selendang menjadi senjata, kemarahan menjadi motif, dan kebejatan manusia membekas di dinding-dinding kamar.

Kasus ini menyisakan tanya besar: di mana batas manusia dan kebejatan? Polisi menegaskan, SA dan SHR kini dalam tahanan. Hukum akan menjawab, tapi luka kota tetap ada. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.