Tipue Sultan — Sulsel Editor
Redaktur Katasulsel.com, mengawal isu publik dan pembangunan daerah
Artikel: 535 Lihat semua

Sidrap, katasulsel.com — Sore belum benar-benar turun, Rabu, 18 Maret 2026. Tapi, langit di Jalan Nene Mallomo sudah gelap oleh asap.

Api lebih dulu datang.
Cepat. Diam-diam. Lalu melahap.

Satu unit rumah kayu di Kelurahan Pangkajene, Kecamatan Maritengngae, hangus terbakar. Bagian bawah rumah yang semi permanen—berbahan batu—ikut terdampak.

Sekitar 40 persen bangunan rusak.

Kerugian?
Ditaksir ratusan juta rupiah.

Lima unit mobil pemadam dikerahkan.
Puluhan personel berjibaku.

Api akhirnya bisa dijinakkan. Tapi yang tersisa bukan hanya arang.

Ada kesedihan.

Ada kehilangan.

Di tengah kepulan sisa asap, Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif datang langsung ke lokasi.

Ia tidak hanya melihat.

Ia mendekat.
Merangkul pemilik rumah.

Kalimatnya sederhana. Tapi dalam.

“Sabar ki, sabar ya. Ini sudah kehendak Allah. Innalillahi wainna ilaihi rajiun… Insya Allah pemerintah daerah akan membantu memperbaiki.”

Di situ—negara terasa hadir. Bukan lewat pidato. Tapi lewat pelukan.

Dugaan sementara, api berasal dari arus pendek listrik.

Hal klasik.
Tapi sering terulang.

Bupati pun mengingatkan—lagi, dan lagi—soal hal kecil yang sering dilupakan.

“Kalau meninggalkan rumah, pastikan semua peralatan sudah diperiksa. Terutama colokan listrik,” ujarnya.

Satu colokan.
Satu percikan.
Bisa jadi awal bencana.

Kini, api sudah padam.

Petugas damkar telah kembali.
Garis polisi terpasang.

Rumah itu tinggal sisa.

Tapi dari abu, biasanya ada cerita baru yang dimulai.

Di Jalan Nene Mallomo—hari itu—yang terbakar bukan hanya kayu.

Tapi juga rasa aman.

Dan yang tersisa—adalah harapan, bahwa semua bisa dibangun kembali. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.