Sidrap, katasulsel.com – Hari pertama berkantor pasca Lebaran, Bupati Syaharuddin Alrif bukannya bersantai.
Ia langsung turun ke masyarakat.
Rabu, 25 Maret 2026 pagi, Syahar – begitu ia akrab disapa – memimpin apel perdana ASN di kantor Bupati.
Ribuan aparatur sipil negara hadir, khidmat.
Setiap kepala SKPD, staf, hingga petugas lapangan, berdiri rapi, siap menata ritme kerja kembali.
Usai apel, Syahar langsung melakukan inspeksi ke sejumlah kantor SKPD.
Ia memastikan semua pejabat hadir, melaksanakan tugasnya.
Tak ada ruang untuk abai.
Tak ada ruang untuk menunda pekerjaan.
Jam kantor selesai, sebagian orang pulang ke rumah.
Tidak bagi Syahar.
Ia tidak kembali ke Rumah Jabatan (Rujab).
Ganti pakaian pun di rumah warga.
Lalu turun ke sawah masyarakat di Watang Sidenreng.
Di tengah hamparan hijau, Syahar bertemu petani lokal.
Ia menanyakan produktivitas, harga gabah, kendala pupuk, bahkan persoalan irigasi.
Bupati mencatat dengan serius.
Mata berbinar, telinga mendengar dengan seksama.
“Alhamdulillah, Pak Bupati turun langsung. Bisa ngobrol langsung, cerita kendala kami di sawah,” ujar Andi Malik (47), petani setempat, sambil menatap ke arah Bupati.
Petani lain menambahkan, “Alhamdulillah pak bupati, kami sekarang tenang, hasil melimpah.”
Bupati Syaharuddin Alrif menanggapi dengan tegas namun hangat:
“Kita harus pastikan program pemerintah sampai ke lapangan.
Saya ingin mendengar langsung, bukan sekadar laporan.
Setiap keluhan akan kami tindaklanjuti.
Petani adalah tulang punggung Sidrap.
Kesejahteraan kalian, prioritas kita semua.”
Turun ke sawah ini, bagi Bupati, bukan sekadar simbol.
Ini aksi nyata. Itu sudah rutinitas Syahar
Momen untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.
Momen yang menegaskan, Libur Lebaran selesai.
Kerja nyata dimulai dari lapangan.
Petani tersenyum, bersalaman, sesekali menunjuk sawah yang membutuhkan perhatian khusus.
Suasana hangat, penuh kekeluargaan.
Bagi Syahar, setiap langkah di sawah adalah investasi untuk Sidrap. (*)


