Sidrap, katasulsel.com — Ia tidak bicara panjang.

Tapi justru di situlah letak bobotnya.

Pernyataan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif tentang dua fokus—infrastruktur dan kesejahteraan—bukan kalimat seremonial di acara pelantikan JMSI Sidrap, Minggu, 29 Maret 2026, menarik disimak.

Bagi sebagian besar orang. Itu adalah arah.

Dan jika dibaca dengan kacamata angka, ini bukan sekadar janji. itu mungkin desain ala Syaharuddin Alrif.

Sebuah desain yang punya target waktu.

Hingga 2029.

Dan tahun 2026 disebut sebagai titik balik.

Mari kita masuk lebih dalam.

Dalam logika pembangunan daerah, ada dua pendekatan klasik:

Kejar pertumbuhan dulu, kesejahteraan menyusul
Atau dorong kesejahteraan langsung, meski pertumbuhan lambat

Syaharuddin tidak memilih salah satu.

Ia menggabungkannya.

Advertisement

Dan itu berisiko—tapi juga potensial.

Jika diterjemahkan ke dalam angka kasar, komposisi kebijakan seperti ini biasanya terbagi:

55–65% dorongan ke infrastruktur
35–45% ke program kesejahteraan

Kenapa tidak 50:50?

Karena infrastruktur adalah “pengungkit”. Jalan, irigasi, konektivitas—itu bukan hasil, tapi alat untuk menghasilkan.

Dan Sidrap, sebagai basis pertanian, sangat sensitif pada ini.

Satu kilometer jalan tani yang diperbaiki bisa menaikkan efisiensi distribusi hingga 10–15 persen.
Satu jaringan irigasi yang stabil bisa meningkatkan produktivitas panen hingga 20 persen.

Di situlah kesejahteraan “ditanam”.

Bukan dibagikan.

Lalu di mana posisi 2026 sebagai titik balik?

Di sinilah menariknya.

Jika 2026 adalah turning point, maka ada indikasi kuat bahwa:

2024–2025 adalah fase konsolidasi
2026–2027 fase akselerasi
2028–2029 fase hasil

Advertisement

Artinya, tahun ini bukan lagi fase coba-coba.

Ini fase mulai “menekan gas”.

Dan itu berbahaya jika salah arah—tapi sangat menguntungkan jika tepat.

Sekarang kita uji pernyataan itu dengan realitas lapangan.

Sidrap selama ini dikenal sebagai lumbung pangan. Tapi problem klasiknya bukan produksi—melainkan distribusi dan nilai tambah.

Artinya, jika infrastruktur dibenahi:

Biaya logistik bisa turun 8–12%
Waktu distribusi bisa lebih cepat 15–20%
Harga jual petani bisa naik karena akses pasar lebih luas

Dari situ, kesejahteraan tidak perlu “diprogramkan” terlalu banyak.

Ia akan mengikuti.

Namun di sinilah letak pertaruhannya.

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.