Bitung, Katasulsel.com – Kamis pagi (2/4/2026) tidak biasa bagi warga pesisir Sulawesi Utara. Pukul 05:48 WIB, bumi berguncang keras. Panik langsung menyebar. Anak-anak menangis, orang tua berteriak, dan kucing-kucing pun ikut “dievakuasi” ke dataran tinggi.
Ibu Rina (34) menggambarkan momen panik itu: “Motor kami tinggal di rumah. Saya gendong anak, suami gendong kucing. Jalan naik bukit, kaki gemetar, tapi keselamatan nomor satu.” Di desa lain, warga spontan saling bantu. Ada yang dorong kursi untuk lansia, ada yang bawa air minum, bahkan makanan ringan untuk anak-anak yang ketakutan.
Media sosial ikut ramai. Ada info lokasi gempa, tapi juga banyak hoax yang bikin warga tambah was-was. AKBP Peter Gosal, Plh Kabid Humas Polda Sulut, langsung memberi imbauan: “Tetap tenang, ikuti jalur evakuasi resmi, jangan percaya berita dari sumber tidak jelas. Keselamatan keluarga adalah nomor satu.”
Fenomena ini menunjukkan sisi lain bencana: solidaritas warga tetap hidup. Ketika gempa melanda, bukan hanya insting menyelamatkan diri yang keluar, tapi juga kepedulian terhadap tetangga, anak-anak, dan hewan peliharaan.
Di balik kepanikan itu, tawa kecil pun muncul. Seorang anak yang sempat tersesat di tengah kerumunan tiba-tiba muncul dengan kucingnya di tangan, membuat beberapa orang tersenyum lega di tengah tegangnya situasi.
Gempa ini bukan hanya soal getaran bumi. Ini ujian kesiapsiagaan, refleks cepat masyarakat, dan kemampuan memfilter informasi di era media sosial. Saat ini, warga tetap di dataran tinggi menunggu status peringatan dini tsunami dicabut, sambil menjaga anak-anak, lansia, dan hewan peliharaan tetap aman.
Sulut pagi ini mengajarkan satu hal: ketika bumi berguncang, manusia yang benar-benar diuji bukan hanya nyali, tapi juga rasa kemanusiaan.(*)

