Sidrap, katasulsel.com — Pagi itu tidak biasa.
Lapangan apel Polres Sidrap,Rabu, 15 April 2026, mendadak sunyi. Bukan karena sepi orang. Justru penuh. Barisan rapi. Seragam lengkap. Tapi suasananya berbeda—hening yang berat.
Ada yang ditahan. Ada yang jatuh.
Air mata.
Momen pelepasan dua personel, Eka Sastri dan Arwan Rahim, berubah jadi adegan haru. Bukan sekadar upacara formal. Ini perpisahan yang terasa sampai ke dada.
Dipimpin langsung Kapolres Sidrap, AKBP Dr. Fantry Taherong, apel itu menjadi panggung pengakuan—tentang pengabdian, tentang kebersamaan, tentang rasa yang tidak bisa dibuat-buat.
Saat momen pamitan tiba, suasana pecah.
Tangis tak bisa lagi disembunyikan.
Eka Sastri, dengan suara bergetar, mengaku tak pernah membayangkan akan dilepas dengan cara seperti ini.
“Jujur, ini di luar ekspektasi saya. Saya tidak menyangka mendapat perhatian seperti ini,” ucapnya.
Kalimat sederhana. Tapi terasa dalam.
Di sampingnya, Arwan Rahim—anggota dengan keterbatasan fisik—berbicara lebih lirih. Tapi pesannya kuat.
Ia tidak hanya pamit. Ia bersyukur.
“Saya bangga pernah jadi bagian dari sini. Apalagi punya pimpinan yang begitu peduli,” katanya.
Ia menyebut satu hal yang jarang diucapkan terang-terangan: kepedulian.
Bagi Arwan, kesempatan pindah tugas bukan sekadar rotasi. Tapi jalan untuk masa depan—untuk kesehatan, untuk kehidupan yang lebih baik.
Dan di titik itu, ia menyebut nama Kapolres dengan penuh hormat.
Ucapan terima kasihnya panjang. Tulus. Tidak dibuat-buat.
Di barisan, beberapa personel terlihat menunduk. Ada yang mengusap mata diam-diam. Ada yang pura-pura tegar.
Tapi semua tahu—ini bukan perpisahan biasa.
Kapolres Sidrap, Fantry Taherong, berdiri di depan. Wajahnya tenang, tapi kalimatnya menusuk.
Ia tidak bicara soal jabatan. Tidak soal prestasi.
Ia bicara soal rumah.
“Sehebat apapun kita mengabdi, kalau jauh dari keluarga, rasanya tidak akan lengkap,” ujarnya.
Kalimat itu seperti mengunci suasana.
Beberapa kepala tertunduk. Yang lain menarik napas panjang.
Fantry menegaskan, pelepasan ini bukan sekadar seremoni. Ini bentuk penghargaan. Bentuk cinta pimpinan kepada anggota.
Ia bahkan menyebut—melepas mereka bukan kehilangan.
Tapi mengantar pulang.
“Selamat kembali dekat dengan keluarga,” katanya.
Kalimat sederhana. Tapi menghantam.
Di akhir, Fantry menyampaikan terima kasih. Juga permintaan maaf. Sebuah gestur yang jarang terdengar dari seorang pimpinan di forum resmi.
“Kalau selama kebersamaan ada kata yang kurang berkenan, saya mohon maaf,” ucapnya.
Tidak ada tepuk tangan meriah.
Yang ada, suasana sendu yang menggantung.
Hari itu, di lapangan apel Polres Sidrap, dua anggota dilepas.
Bukan dengan gemuruh.
Tapi dengan air mata.
Dan satu pesan yang tertinggal—
pengabdian boleh berpindah tempat, tapi rasa kekeluargaan tidak pernah ikut pergi.(*)
