📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!
Join WhatsAppfoto ilustrasi
Barru, Katasulsel.com — Minggu (1/2/2026) lalu menjadi hari yang tak mudah dilupakan oleh sejumlah warga di Kabupaten Barru. Tanpa peringatan yang mencolok, angin kencang berputar seperti sapuan siklon kecil menghantam permukiman di empat kecamatan, menjungkirkan kehidupan sehari-hari selama beberapa detik yang panjang.
Sekitar pukul 14.30 Wita, langit relatif cerah sesaat setelah hujan ringan mereda. Lalu datanglah hembusan yang bukan sekadar angin biasa.
Dalam hitungan menit, genteng beterbangan, bambu dan daun bergemuruh, atap rumah tercabut separuh bahkan membuat bagian bangunan warga remuk. “Kami tidak sempat menyelamatkan perabotan. Bunyi angin itu seperti deru mesin besar,” ujar salah seorang warga yang rumahnya terdampak langsung.
BPBD Barru mencatat 33 unit rumah rusak tersebar di Kecamatan Barru, Tanete Rilau, Soppeng Riaja, dan Balusu. Desa Garessi di Tanete Rilau menjadi yang paling parah, dengan sekitar 12 rumah rusak — sebagian besar kerusakan berada pada atap yang beterbangan.
Meski demikian, kabar baik datang dari data lapangan: tak ada korban jiwa atau luka serius. “Alhamdulillah semua selamat. Yang rusak memang banyak, tapi jiwa warga terjaga,” kata Kabid Rehabilitasi BPBD setempat.
Lebih dari Sekadar Angin Kencang
Fenomena puting beliung seperti ini bukan kejadian pertama di Sulawesi Selatan. Dalam catatan beberapa tahun terakhir, berbagai daerah di Sulsel juga pernah mengalami hantaman angin puting beliung yang merusak rumah dan fasilitas umum — dari Bulukumba hingga Makassar — namun hampir selalu beruntung tidak memakan korban jiwa.
Spesialis meteorologi menjelaskan bahwa puting beliung sering muncul tiba-tiba, tanpa window peringatan panjang seperti badai tropis — sehingga warga terkadang kaget sekaligus tak sempat mengamankan properti mereka. Dalam hitungan detik, hembusan angin bisa mencapai kecepatan cukup tinggi untuk mencabut atap rumah. Perbedaan antara puting beliung dan tornado yang sering membingungkan publik terletak pada struktur awan dan intensitas angin: umumnya tornado memiliki kecepatan jauh lebih tinggi.
Begitu angin reda, panggilan untuk gotong royong menggema di lorong-lorong kampung. Tetangga saling membantu membersihkan puing, relawan BPBD bersama warga membuka akses jalan yang sempat terhalang tumbangnya beberapa pohon. Selain itu, tim gabungan segera mendata warga terdampak untuk bantuan perbaikan rumah, khususnya atap yang terbang.
Seorang tokoh masyarakat Barru menegaskan: “Cobaan alam ini bukan akhir. Kita akan bangun lagi rumah kita, tapi juga membangun kesadaran bersama akan risiko cuaca ekstrem.”
Dengan meningkatnya peristiwa cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia belakangan ini, warga semakin menyadari pentingnya kesiapsiagaan dan pemahaman tentang fenomena alam yang bisa datang hampir tanpa tanda. (*)







Tinggalkan Balasan