📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Barru, Katasulsel.com — Di tengah fluktuasi harga material dan ongkos pembangunan yang terus bergejolak di berbagai daerah, Kabupaten Barru tampil sebagai salah satu wilayah dengan biaya konstruksi paling rasional di Sulawesi Selatan. Data Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat IKK Barru berada di angka 92,19 poin, menempatkannya dalam lima besar daerah dengan biaya konstruksi terendah di provinsi ini.

Capaian tersebut bukan sekadar statistik tahunan, melainkan gambaran struktur biaya pembangunan yang relatif sehat dan terkendali. Dalam metodologi BPS, IKK mengukur tingkat kemahalan konstruksi suatu daerah dibandingkan Kota Surabaya sebagai kota acuan nasional. Dengan skor 92,19 poin, biaya konstruksi di Barru setara 0,9219 kali biaya konstruksi di Surabaya, atau secara sederhana: membangun di Barru jauh lebih ekonomis dibandingkan kota acuan nasional.

Posisi Barru bahkan lebih menonjol jika ditarik ke peta Sulawesi Selatan. Dari 24 kabupaten/kota, Barru berada di peringkat kedua terendah, hanya berada di bawah Kabupaten Gowa yang mencatatkan IKK 90,09 poin. Di bawah Barru, terdapat Kota Parepare, Kabupaten Bantaeng, dan Kabupaten Takalar—sebuah deretan daerah yang dikenal memiliki akses material dan logistik relatif baik.

Dalam konteks ini, Kabupaten Barru yang dipimpin oleh Bupati Andi Ina Kartika Sari dinilai berada di jalur pembangunan yang efisien dan terukur. Rendahnya IKK menjadi modal penting bagi pemerintah daerah untuk mengeksekusi proyek infrastruktur publik, fasilitas dasar, hingga pembangunan kawasan ekonomi tanpa tekanan biaya berlebihan.

IKK yang rendah juga mencerminkan sejumlah faktor struktural: kelancaran distribusi material bangunan, ketersediaan tenaga kerja konstruksi lokal, serta efisiensi rantai pasok. Faktor-faktor tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga agar pembangunan tidak tersandera oleh lonjakan harga yang kerap terjadi di daerah dengan akses logistik terbatas.

Dari sudut pandang pelaku usaha jasa konstruksi dan investor, Barru menawarkan kepastian biaya yang kompetitif. Proyek dapat direncanakan dengan risiko pembengkakan anggaran yang lebih kecil, sebuah variabel penting dalam iklim investasi daerah. Sementara bagi masyarakat, efisiensi biaya pembangunan berpotensi berdampak pada harga hunian dan fasilitas publik yang lebih terjangkau.

Sebagai pembanding, sejumlah daerah di Sulawesi Selatan justru menghadapi tantangan biaya konstruksi yang jauh lebih tinggi. Kabupaten Luwu Timur, misalnya, mencatatkan IKK tertinggi sebesar 103,08 poin, disusul Tana Toraja dan Toraja Utara yang melampaui 101 poin. Perbedaan ini menunjukkan adanya ketimpangan struktural antarwilayah dalam hal biaya pembangunan.

Di tengah peta yang timpang tersebut, Barru mengambil posisi strategis: tidak hanya murah, tetapi stabil. Dan stabilitas dalam pembangunan sering kali menjadi prasyarat utama bagi keberlanjutan ekonomi daerah.

Dengan IKK 92,19 poin, Barru bukan sekadar masuk daftar daerah termurah, tetapi juga menegaskan arah kebijakan pembangunan yang rasional. Di bawah kepemimpinan Bupati Andi Ina Kartika Sari, efisiensi biaya menjadi bagian dari upaya membangun daerah secara cermat—bukan dengan euforia proyek, melainkan dengan kalkulasi yang matang.(*)