Kedua, potensi distorsi rantai pasok. Ketika BBM dibeli dari SPBU lalu dijual kembali oleh pengecer, ada ruang margin. Dalam kondisi normal, margin itu kecil. Tapi ketika pasokan tersendat atau permintaan melonjak, margin bisa berubah jadi “lonjakan”.
Ketiga, psikologi pasar. Isu global, fluktuasi harga minyak dunia, hingga kabar simpang siur seringkali memicu spekulasi di tingkat bawah. Pengecer bermain aman—atau bermain untung.
Yang keempat, ini yang paling sensitif: dugaan praktik tidak sehat. Entah penimbunan skala kecil, pembatasan pasokan informal, atau bahkan permainan distribusi mikro yang sulit terdeteksi.
Bandingkan dengan narasi resmi pemerintah.
“Kami minta masyarakat pegang informasi dari pemerintah,” kata Bahlil Lahadalia. Tujuannya jelas: stabilitas.
Pertamina Patra Niaga bahkan menegaskan distribusi aman, stok tersedia, dan tidak ada penyesuaian harga.
Di Jakarta, angka-angka rapi:
Pertalite: Rp10.000/liter
Solar subsidi: Rp6.800/liter
Pertamax: Rp12.300/liter
Semua terkendali.
Namun Sidrap menunjukkan satu hal: stabilitas di pusat tidak otomatis menjalar ke pinggiran.
Ini bukan sekadar soal harga BBM.
Ini soal struktur ekonomi lokal.
Di daerah, rantai distribusi sering lebih panjang. Pengawasan lebih longgar. Ketergantungan pada pengecer lebih tinggi. Dan ketika satu simpul terganggu, efeknya langsung terasa di masyarakat.


