
Sidrap, Katasulsel.com — Pengungkapan satu kilogram narkotika jenis sabu di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel tak hanya menyorot besarnya barang bukti, tetapi juga menguatkan indikasi perubahan pola peredaran narkoba yang semakin modern dan terstruktur.
Seorang pria berinisial RD diamankan petugas BNNP Sulsel dalam operasi yang berlangsung Minggu (4/1/2025). Dari penguasaannya, aparat menyita sabu seberat satu kilogram yang dikemas rapi menggunakan plastik bening dan dililit lakban cokelat berukuran besar—pola pengemasan yang dinilai bukan dilakukan secara acak.
Kepala Bidang Pemberantasan dan Intelijen BNNP Sulsel, Kombes Pol Ardiansyah, menyebut kemasan tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam proses pendalaman jaringan.
“Pengemasan yang rapi dan seragam biasanya berkaitan dengan sistem distribusi yang terorganisir,” ujar Ardiansyah, Selasa (6/1/2025).
Menurutnya, pelaku RD mengakui barang tersebut berada dalam penguasaannya, namun mengklaim hanya bertindak atas perintah pihak lain. Pola ini, kata Ardiansyah, sejalan dengan karakter jaringan narkotika modern yang kerap memutus mata rantai langsung antara pengendali dan pelaku lapangan.
“Pelaku di lapangan sering kali hanya menjadi bagian kecil dari sistem. Mereka tidak selalu mengetahui struktur jaringan di atasnya,” jelasnya.
BNNP Sulsel saat ini menelusuri lebih jauh kemungkinan penggunaan pola komunikasi tertutup dan sistem distribusi berlapis dalam kasus tersebut. Meski belum ditemukan bukti kuat yang mengarah langsung pada jaringan internasional, indikasi asal barang dari luar negeri masih menjadi salah satu fokus penyelidikan.
“Kami belum bisa memastikan keterkaitan dengan jaringan internasional. Namun, dari karakter barang dan pola distribusinya, kemungkinan itu tetap kami dalami,” ungkap Ardiansyah.
Pengembangan kasus kini mengarah pada pelacakan jaringan yang lebih luas, termasuk menelusuri alur pergerakan barang dan pihak-pihak yang diduga berperan sebagai pengendali. BNNP Sulsel menegaskan, pendekatan intelijen dan analisis pola peredaran menjadi kunci untuk membongkar jaringan narkotika yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.
“Kami tidak hanya berhenti pada pelaku lapangan. Fokus kami adalah memutus sistemnya,” tegas Ardiansyah.
Pengungkapan ini kembali menegaskan bahwa peredaran narkotika tidak lagi bergerak secara konvensional, melainkan memanfaatkan pola kerja senyap dan terfragmentasi—tantangan serius bagi aparat sekaligus peringatan bagi masyarakat. (*)






Tinggalkan Balasan