Makassar, katasulsel.com – Gelar S.IP, M.M… pasti.. Tapi darah petani yang mengalir di tubuhnya Itu tidak bisa dipalsukan.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif – atau SAR, begitu orang menyapanya – punya itu. Dari kecil sudah main tanah, bukan main angka. Dari kecil sudah kenal benih, bukan spreadsheet.
Jumat (27/2/2026) publik melihat sendiri. Usai panen raya di persawahan Kelurahan Lautang Benteng, SAR tidak duduk manis di kursi tamu kehormatan.
Ia turun ke sawah, meraba batang padi, memeriksa gabah, ikut mengangkat karung. Semua mata melihat para petani muda menatapnya, sebagian kagum, sebagian malu-malu. “Pak… kok Bupati ikut-ikutan capek juga?” kata salah seorang.
SAR tersenyum. “Ini bukan capek-capekan, ini belajar menghargai kerjaan kalian,” jawabnya. Dan senyum itu… tulus. Bukan sekadar citra politik, tapi rasa hormat pada tanah yang membesarkannya.
Setelah itu, ia meluncur ke pabrik beras CV Rahma 35, tidak jauh dari sawah. Dari pengeringan, penggilingan, sampai pengemasan, ia periksa satu per satu. Bahkan sempat bertanya teknis proses ke pekerja, sampai mereka bingung: “Ini bupati atau supervisor baru?”
Lucu, tapi serius: di kertas SAR gelar S.IP dan M.M, formal. Di lapangan, ia tahu persis kapan harus menanam, kapan panen, kapan menjemur gabah. Itu bukan teori, itu jiwa petani.
Dan ternyata, jiwa itu bisa bikin angka ikut bicara. Sidrap mencatat pertumbuhan ekonomi 7,71 persen, juara Sulsel 2025. Luwu dan Wajo bisa iri, Makassar tersenyum tipis. Anak petani yang hampir seluruh hidupnya di sawah, bukan di ruang kuliah pertanian, membawa daerahnya juara.
SAR juga memberi apresiasi ke CV Rahma 35: “Terima kasih, kalian ikut menjaga Sidrap tetap kuat.” Serius. Tapi di matanya, ada hangatnya seorang bapak yang melihat anak-anaknya panen padi.
Pesan moralnya? Anak petani sejati tidak takut tanah. Tidak takut capek. Tidak takut turun langsung. Gelar boleh formal, tapi jiwa sawah itu tidak bisa ditiru. Dan kalau jiwa itu bertemu kesempatan memimpin… ya, hasilnya Sidrap juara.
Ah, satu lagi. Kalau ada yang bertanya, “Pak, kok Sidrap bisa juara ekonomi padahal Bupati bukan Insinyur Pertanian?” SAR tersenyum sambil menunjuk sawah: “Lihat saja, tanah tidak bohong.” (*)

Tinggalkan Balasan