
Sidrap, katasulsel.com — Ada pesan kepemimpinan yang tidak disampaikan lewat pidato panjang, melainkan lewat pilihan tempat dan simbol. Ketika Bupati Sidenreng Rappang Syaharuddin Alrif melantik ratusan pejabat di Pasar Tanru Tedong, ia sejatinya sedang mengajarkan satu hal sederhana: pemerintahan harus enak dilihat, nyaman dirasakan, dan memberi senyum bagi warganya.
Pasar Tanru Tedong hari ini bukan lagi wajah lama yang semrawut dan kumuh. Penataannya rapi, kebersihan terjaga, lalu lintas manusia tertib, dan ruang publiknya terasa hidup. Warga datang tanpa cemas, pulang tanpa keluh. Dari ruang inilah Bupati Sidrap menyampaikan pesan moral kepada para pejabat barunya: jadilah seperti pasar ini setelah dibenahi.
Pelantikan yang digelar Kamis malam (15/1/2026) itu memang mencatat angka administratif—3 pejabat pimpinan tinggi pratama, puluhan administrator, ratusan pengawas. Namun substansinya jauh melampaui daftar nama. Ini tentang watak birokrasi yang diharapkan lahir dari wajah baru Sidrap.
Bupati tidak secara eksplisit menyebut metafora pasar dalam kalimat formalnya. Namun pesan itu terasa jelas: pejabat yang baik adalah pejabat yang tertata, bersih, dan membuat masyarakat nyaman. Seperti Pasar Tanru Tedong yang kini tidak lagi membuat orang mengernyitkan dahi, tetapi justru tersenyum saat melintas.
Dalam kacamata kepemimpinan, ini adalah standar yang tidak berlebihan. Pemerintah tidak harus selalu spektakuler. Ia cukup hadir dengan ketertiban, kejelasan, dan kebersihan tata kelola. Ketika pelayanan rapi, masyarakat tidak merasa dipersulit. Ketika birokrasi bersih, publik tidak curiga. Ketika pejabat bekerja dengan hati, warga merasa dihargai.
Pesan Bupati Sidrap sederhana namun tegas: jabatan bukan etalase kekuasaan, melainkan ruang pengabdian. Rotasi dan mutasi hanyalah alat. Tujuannya satu—membuat pemerintahan lebih enak dilihat dan dirasakan.
Pasar Tanru Tedong memberi contoh konkret. Dulu orang datang karena terpaksa. Kini orang datang karena nyaman. Inilah transformasi yang diinginkan Bupati Sidrap pada birokrasi: hadir tanpa membuat resah, bekerja tanpa membuat gaduh.
Di tengah birokrasi yang kerap dicurigai lamban dan berjarak, pesan ini menjadi penting. Bupati ingin para pejabat barunya tidak tampil angkuh, tetapi membumi. Tidak kaku, tetapi melayani. Tidak meninggalkan jejak keluhan, tetapi meninggalkan senyum.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pejabat Sidrap ke depan bukan seberapa sering mereka tampil di podium, tetapi seberapa jarang masyarakat mengeluh. Jika warga merasa nyaman, tertib, dan percaya—seperti saat mereka berjalan di Pasar Tanru Tedong hari ini—maka pesan Bupati itu telah sampai.
Dan bila setiap kali warga melihat kinerja pemerintahnya, mereka ingin tersenyum, maka di situlah pemerintahan menemukan maknanya. (*)






Tinggalkan Balasan