Jakarta, Katasulsel.com – Konflik Iran versus Amerika Serikat dan Israel memasuki hari ke-30, tapi Teheran punya jurus baru: bicara langsung ke rakyat AS. Bukan Presiden Donald Trump, tapi langsung ke publik Amerika, melalui surat terbuka yang menolak klaim bahwa Iran meminta gencatan senjata.

Presiden Majelis Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan: Iran bukan agresor. Negeri ini tidak pernah memulai perang terhadap negara lain dan hanya membela kedaulatan. “Narasi ancaman Iran sengaja dibangun untuk membenarkan agresi terhadap kami,” tulis Pezeshkian, yang menyindir keterlibatan AS sebagai “perang proksi untuk kepentingan Israel”.

Analisis lembaga think tank global menyebut Iran sukses mempertahankan posisi strategis: sistem politiknya utuh, kemampuan pertahanan tetap kuat, dan jalur vital Selat Hormuz ada di tangan Teheran. Amerika Serikat dan Israel belum mencapai tujuan mereka—menggulingkan rezim, melemahkan pertahanan, atau memaksa Iran menyerah.

Advertisement

Diplomasi publik jadi senjata Iran berikutnya. Dengan menulis langsung ke rakyat AS, Teheran ingin menggeser narasi dari meja politik ke opini global, membuktikan: perang ini tak hanya soal rudal, tapi juga persepsi. Setiap tweet, setiap berita, menjadi medan tempur baru.

Dampak global pun terasa nyata. Harga minyak melambung, perdagangan terguncang, dan ekonomi dunia mulai merasakan getaran ketegangan di Selat Hormuz. Konflik ini kini bukan sekadar militer, tapi kombinasi strategi, propaganda, dan ekonomi global.

Di tengah semua itu, pesan Iran jelas: “Kami tak mencari perang, tapi kami siap mempertahankan diri. Dan dunia harus tahu siapa agresor sebenarnya.” Rakyat global, terutama Amerika, menjadi saksi utama drama geopolitik yang tidak hanya terjadi di medan tempur, tapi juga di layar HP dan media sosial dunia. (*)

Advertisement

Gambar berita Katasulsel