Dari ruang siaran radio, kariernya terus berkembang hingga masuk ke dunia profesional, termasuk sepak bola.
Appi mengaku pernah mengalami hambatan bahasa Inggris saat berkecimpung di industri olahraga, namun keterbatasan itu justru menjadi pendorong untuk terus belajar.
Kariernya kemudian membawa ia dipercaya memimpin perusahaan, terjun ke dunia bisnis, hingga menjadi figur penting di sepak bola nasional.
Ia juga mengisahkan masa saat dipercaya memimpin PSM Makassar pada 2016, ketika klub berada dalam fase sulit akibat krisis internal dan dampak sanksi FIFA.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Appi melakukan restrukturisasi besar-besaran—mulai dari manajemen, pelatih, hingga pemain asing.
Perubahan itu perlahan membawa kebangkitan.
Puncaknya, pada 2019, PSM berhasil mengakhiri penantian panjang dan meraih Piala Indonesia setelah 19 tahun tanpa trofi.
Dalam kuliah itu, Appi juga menyoroti pentingnya entrepreneurship.
Ia menyebut Makassar sebagai kota yang tumbuh dari sektor perdagangan dan jasa, sehingga membutuhkan lebih banyak pengusaha muda.
Ia memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi Makassar pernah menyentuh 5,3 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional dan Sulawesi Selatan saat itu.
Namun dari seluruh paparannya, pesan terkuat justru sederhana:
visi, konsistensi, relasi, dan keberanian bangkit setelah gagal.
Dari kalah lawan kotak kosong, dua kali tumbang di pilkada, membayar kuliah sendiri, memimpin PSM saat krisis, hingga akhirnya menjadi Wali Kota Makassar, Appi menunjukkan satu narasi yang jarang dibuka di forum akademik:
bahwa kepemimpinan besar sering lahir bukan dari jalan mulus, tetapi dari kemampuan bertahan setelah dipermalukan kegagalan.
