Makassar, katasulsel.com β€” Kuliah umum Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Jumat (22/5/2026), tak sekadar bicara soal pemerintahan dan pembangunan kota. Di hadapan mahasiswa, pria yang akrab disapa Appi itu justru membedah sisi paling personal dalam hidupnya: jatuh, gagal, malu, bangkit, lalu menang.

Tema kuliah umum bertajuk β€œSinergi Pemerintahan, Hukum dan Entrepreneurship dalam Menciptakan Inovasi Pemerintahan yang Berdampak di Kota Makassar” berubah menjadi panggung refleksi tentang ketekunan, mental bertahan, dan mimpi yang diperjuangkan bertahun-tahun.

Sisi paling kuat dari cerita Appi bukan hanya soal politik, tetapi fakta bahwa ia tiga kali bertarung dalam Pilkada hanya dalam enam tahun.

Dan dua kali pertama, ia kalah.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Pada Pilkada Makassar 2018, Appi maju sebagai calon wali kota dan menghadapi lawan yang tak biasa: kotak kosong.

Ia kalah.

Kekalahan itu menjadi salah satu momen paling berat dalam perjalanan politiknya.

β€œTujuh bulan saya tidak pernah ke warung kopi. Bukan karena kalahnya, tapi malunya. Setiap ada orang berbisik, saya merasa sedang dibicarakan sebagai orang yang kalah dari kotak kosong,” ungkap Appi, disambut riuh mahasiswa.

Namun politik tak berhenti di sana.

Tahun 2020, ia kembali maju bersama Rahman Bando, di tengah situasi pandemi COVID-19 ketika kampanye serba terbatas dan banyak dilakukan secara virtual.

Hasilnya, ia kembali kalah.

Dua kekalahan beruntun tak membuatnya mundur.

Pada Pilkada 2024, Appi kembali majuβ€”kali ini bersama Aliyah Mustika Ilhamβ€”dan berhasil memenangkan kontestasi dengan raihan sekitar 54 persen suara.

Dari sinilah narasi kuat itu muncul:

kalah dua kali, bangkit tiga kali, lalu duduk di kursi Wali Kota Makassar.

Di depan mahasiswa Unhas, Appi menegaskan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia jika dituntaskan.

β€œTidak ada perjuangan yang dilakukan sampai tuntas yang berakhir sia-sia,” pesannya.

Namun kisah Appi bukan hanya soal pilkada.

Ia juga membuka cerita masa mudanya yang penuh keterbatasan ekonomi.

Sebagai alumni Fakultas Hukum Unhas, ia mengaku berasal dari keluarga sederhana. Orang tuanya hanya mampu membiayai satu semester kuliah, sementara sisanya ia tanggung sendiri.

Ia bekerja sambil kuliah, salah satunya sebagai penyiar radio, demi menuntaskan pendidikan.

Bersambung………..

Dari ruang siaran radio, kariernya terus berkembang hingga masuk ke dunia profesional, termasuk sepak bola.

Appi mengaku pernah mengalami hambatan bahasa Inggris saat berkecimpung di industri olahraga, namun keterbatasan itu justru menjadi pendorong untuk terus belajar.

Kariernya kemudian membawa ia dipercaya memimpin perusahaan, terjun ke dunia bisnis, hingga menjadi figur penting di sepak bola nasional.

Ia juga mengisahkan masa saat dipercaya memimpin PSM Makassar pada 2016, ketika klub berada dalam fase sulit akibat krisis internal dan dampak sanksi FIFA.

Appi melakukan restrukturisasi besar-besaranβ€”mulai dari manajemen, pelatih, hingga pemain asing.

Perubahan itu perlahan membawa kebangkitan.

Puncaknya, pada 2019, PSM berhasil mengakhiri penantian panjang dan meraih Piala Indonesia setelah 19 tahun tanpa trofi.

Dalam kuliah itu, Appi juga menyoroti pentingnya entrepreneurship.

Ia menyebut Makassar sebagai kota yang tumbuh dari sektor perdagangan dan jasa, sehingga membutuhkan lebih banyak pengusaha muda.

Ia memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi Makassar pernah menyentuh 5,3 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional dan Sulawesi Selatan saat itu.

Namun dari seluruh paparannya, pesan terkuat justru sederhana:

visi, konsistensi, relasi, dan keberanian bangkit setelah gagal.

Dari kalah lawan kotak kosong, dua kali tumbang di pilkada, membayar kuliah sendiri, memimpin PSM saat krisis, hingga akhirnya menjadi Wali Kota Makassar, Appi menunjukkan satu narasi yang jarang dibuka di forum akademik:

bahwa kepemimpinan besar sering lahir bukan dari jalan mulus, tetapi dari kemampuan bertahan setelah dipermalukan kegagalan.

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.