SIDRAP — Stadion Ganggawa seharusnya menjadi tempat Georges Decauch Jorel Manga Messe menunjukkan kemampuannya mengolah si kulit bundar. Namun, bagi pesepakbola asal Kamerun itu, lapangan sepak bola di Sidrap justru menjadi titik akhir perjalanannya di Indonesia.
Usai tampil dalam pertandingan Sidrap Cup, Georges diamankan petugas Imigrasi yang telah mengantongi informasi mengenai status keimigrasiannya. Sejak saat itu, kisah yang semula berawal dari mimpi mengejar karier sepak bola profesional berubah menjadi persoalan hukum.
Cerita Georges terbilang tidak biasa. Ia datang ke Indonesia dengan harapan mendapat kesempatan mengikuti seleksi di klub profesional. Namun situasi kompetisi yang sedang libur membuat rencana tersebut tak berjalan sesuai harapan.
Dalam masa penantian, Georges justru menemukan panggung lain: sepak bola tarkam.
Di banyak daerah, termasuk Sidrap, turnamen tarkam bukan lagi sekadar hiburan kampung. Atmosfernya kerap menyerupai kompetisi profesional, lengkap dengan dukungan suporter fanatik, hadiah besar, hingga perekrutan pemain dari luar daerah.
Georges kemudian bergabung dengan salah satu tim peserta Sidrap Cup dan sempat merasakan gegap gempita turnamen yang menjadi perhatian pecinta sepak bola lokal.
Namun di balik sorak-sorai penonton, petugas Imigrasi ternyata sedang melakukan pengawasan.
Hasil pemeriksaan menunjukkan izin tinggal Georges telah berakhir sejak Februari 2026. Kondisi itu membuat keberadaannya di Indonesia masuk kategori pelanggaran keimigrasian.
Yang menarik, kasus ini membuka sisi lain dari fenomena sepak bola tarkam yang semakin berkembang di Sulawesi Selatan. Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada persaingan antartim, transfer pemain dadakan, atau besarnya hadiah turnamen.
Kini muncul pertanyaan baru: sejauh mana pengawasan terhadap pemain asing yang ikut meramaikan kompetisi tingkat daerah?
Bagi masyarakat Sidrap, peristiwa ini menjadi cerita yang jarang terjadi. Tidak banyak turnamen lokal yang berujung pada penangkapan seorang pemain asing oleh petugas Imigrasi sesaat setelah pertandingan berakhir.
Setelah diamankan, Georges dibawa ke Rumah Detensi Imigrasi Makassar untuk menunggu proses pemulangan ke negara asalnya. Hingga kini, deportasi masih menunggu penyelesaian biaya perjalanan.
Di tengah ramainya pembahasan klasemen dan perebutan gelar Sidrap Cup, nama Georges justru dikenang karena alasan yang berbeda.
Ia datang membawa mimpi besar menjadi pesepakbola profesional di Indonesia. Namun yang tersisa kini bukan kontrak klub atau trofi juara, melainkan kisah tentang seorang pemain asing yang menemukan panggung di tarkam Sidrap sebelum akhirnya berhadapan dengan aturan keimigrasian.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
