Sidrap, Katasulsel.com β Di balik euforia Sidrap sebagai juara umum Porsenijar PGRI Sulawesi Selatan 2026, ada cerita menarik yang luput dari perhatian publik.
Cerita itu datang dari tiga daerah bertetangga di kawasan utara Sulawesi Selatan: Wajo, Enrekang, dan Soppeng.
Ketiganya datang ke Sidrap dengan harapan besar. Namun ketika klasemen akhir diumumkan pada penutupan Porsenijar, nasib mereka ternyata berbeda jauh.
Wajo tampil gemilang.
Enrekang memberi kejutan.
Sedangkan Soppeng justru mengalami penurunan yang sulit diabaikan.
Wajo Diam-Diam Menjadi Kekuatan Baru
Tanpa banyak sorotan sebelum kompetisi, Wajo berhasil menembus peringkat 6 besar Sulsel dengan raihan 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.
Prestasi itu membuat Wajo berada di atas sejumlah daerah yang selama ini lebih sering diperhitungkan dalam event-event PGRI tingkat provinsi.
Salah satu penyumbang emas datang dari cabang Petanque Putra. Dalam nomor ini, Wajo tampil dominan dan berhasil mengalahkan Makassar di partai puncak.
Jika melihat komposisi medali, Wajo hanya terpaut tipis dari Gowa yang berada di posisi kelima.
Enrekang, Sedikit Kontingen Tetapi Efektif
Yang lebih menarik lagi adalah Enrekang.
Daerah pegunungan ini berhasil finis di posisi 8 besar Sulawesi Selatan dengan raihan 2 emas, 1 perak, dan 2 perunggu.
Secara jumlah total medali, Enrekang memang tidak sebanyak beberapa daerah lain.
Namun efektivitas mereka patut mendapat perhatian.
Dari lima medali yang diraih, dua di antaranya langsung berstatus emas.
Rasio ini menunjukkan Enrekang mampu memaksimalkan peluang ketika tampil di cabang yang menjadi andalan mereka.
Di tengah dominasi daerah-daerah besar seperti Makassar, Bone, Gowa, dan Sidrap, capaian Enrekang bisa disebut sebagai salah satu kejutan positif Porsenijar 2026.
Soppeng Datang dengan Target Tinggi
Berbeda dengan Wajo dan Enrekang, Soppeng datang ke Sidrap dengan optimisme besar.
Sebelum keberangkatan, PGRI Soppeng secara terbuka menargetkan mengulang prestasi saat menjadi tuan rumah tahun 2023, ketika berhasil meraih posisi juara dua umum. Bahkan sekitar 70 persen atlet yang diturunkan merupakan generasi milenial yang diharapkan menjadi kekuatan baru.
Namun hasil akhir berkata lain.
Soppeng hanya mampu finis di peringkat 21 dengan koleksi 2 perak dan 3 perunggu, tanpa satu pun medali emas.
Bagi daerah yang sebelumnya pernah menjadi runner-up umum, hasil ini tentu menjadi bahan evaluasi serius.
Ironi Soppeng
Yang membuat cerita Soppeng semakin menarik adalah mereka sebenarnya sempat menunjukkan tanda-tanda positif.
Pada cabang Petanque Putra, Soppeng berhasil meraih medali perunggu bersama Sidrap.
Namun raihan itu tidak cukup mendongkrak posisi klasemen secara keseluruhan.
Ketika Wajo mampu mengubah peluang menjadi emas dan Enrekang tampil efisien dalam perebutan gelar juara, Soppeng justru kesulitan mengonversi peluang menjadi kemenangan.
Pelajaran dari Porsenijar 2026
Porsenijar Sulsel 2026 yang diikuti lebih dari 63 ribu peserta dari 24 kabupaten dan kota ini menghadirkan satu pelajaran penting.
Nama besar tidak selalu menjamin prestasi.
Wajo membuktikan bahwa konsistensi bisa membawa daerah masuk papan atas.
Enrekang menunjukkan efektivitas lebih penting daripada jumlah peserta.
Sementara Soppeng mengingatkan bahwa target tinggi tanpa hasil maksimal hanya akan menjadi catatan dalam arsip kompetisi.
Ketika Sidrap berpesta sebagai juara umum, Wajo dan Enrekang pulang dengan kepala tegak.
Sedangkan Soppeng harus kembali ke Bumi Latemmamala dengan pekerjaan rumah yang jauh lebih besar untuk Porsenijar berikutnya. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
