Soppeng, Katasulsel.com – Mahasiswa Praktik Belajar Lapangan (PBL) III Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin mendorong pencegahan hipertensi di Desa Labokong, Kecamatan Donri-Donri, Kabupaten Soppeng, dengan melibatkan kader kesehatan desa sebagai penggerak edukasi di tengah masyarakat.

Upaya itu dilakukan melalui kegiatan edukasi hipertensi yang dirangkaikan dengan demonstrasi pembuatan minuman herbal 4 rempah di Posko Desa Labokong, Rabu (1/7/2026) sore. Sasaran kegiatan ini ialah ibu rumah tangga, dengan fokus pada peningkatan pemahaman tentang hipertensi, pola hidup sehat, dan pemanfaatan bahan alami di sekitar rumah untuk mendukung pengendalian tekanan darah.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai pengertian hipertensi, faktor risiko, dampak yang dapat ditimbulkan, hingga langkah pencegahan dan pengendaliannya. Warga juga diajak memahami pentingnya menjaga pola makan, rutin beraktivitas fisik, serta memeriksa tekanan darah secara berkala sebagai bagian dari upaya mencegah komplikasi.

Tak hanya menyampaikan materi, mahasiswa PBL III juga memperagakan pembuatan minuman herbal berbahan jahe, serai, kunyit, daun salam, dan madu. Ramuan itu diperkenalkan sebagai salah satu pilihan minuman sehat pendamping pola hidup sehat karena menggunakan bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar.

Demonstrasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong warga agar tidak hanya memahami risiko hipertensi secara teoritis, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dalam memanfaatkan bahan pangan lokal untuk kebutuhan kesehatan keluarga. Dengan cara itu, edukasi kesehatan diharapkan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Yang menjadi penekanan dalam kegiatan ini ialah penguatan peran kader kesehatan Desa Labokong. Mahasiswa PBL III menempatkan kader sebagai penghubung utama penyebaran informasi kesehatan kepada warga, termasuk dalam mengampanyekan pencegahan hipertensi dan kebiasaan hidup sehat di tingkat rumah tangga.

Pelibatan kader kesehatan dipandang penting agar edukasi tidak berhenti setelah program PBL selesai. Melalui kader, informasi mengenai bahaya hipertensi, pentingnya pemeriksaan tekanan darah, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, hingga pemanfaatan bahan alami di sekitar rumah dapat terus disampaikan dalam kegiatan posyandu, pertemuan warga, maupun agenda pembinaan kesehatan lainnya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), yakni model pemberdayaan yang menitikberatkan pada pemanfaatan aset dan potensi yang telah dimiliki masyarakat. Dalam konteks Desa Labokong, kader kesehatan diposisikan sebagai aset lokal yang diharapkan mampu menjaga keberlanjutan promosi kesehatan, khususnya dalam pengendalian penyakit tidak menular seperti hipertensi.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa PBL III FKM Unhas tidak hanya menghadirkan edukasi sesaat, tetapi juga mendorong lahirnya peran lokal yang dapat melanjutkan pesan-pesan kesehatan secara berkelanjutan. Di tengah tingginya risiko hipertensi, penguatan kader dan pemanfaatan sumber daya sederhana di tingkat rumah tangga menjadi langkah kecil yang penting untuk menjaga kesehatan masyarakat desa.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Soppeng hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Soppeng terbaru di sini