JAKARTA — Angka itu berbicara keras: 7,71 persen.

Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) resmi jadi juara pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan 2025. Data Badan Pusat Statistik menempatkan Sidrap di posisi teratas, mengungguli Kabupaten Luwu (7,43 persen) dan Kabupaten Wajo (7,16 persen).

Bukan kota besar. Bukan kawasan industri raksasa.

Ini Sidrap. Bumi Nene Mallomo.

Dan di balik lonjakan itu, ada satu nama yang tak bisa dilepaskan: Syaharuddin Alrif.

Bupati yang akrab disapa SAR itu tak berlebihan saat menyebut capaian ini sebagai buah kerja kolektif. “Ini hasil kolaborasi petani, pedagang, pelaku UMKM, dan seluruh elemen masyarakat,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).

Tapi para pengamat melihatnya lebih dalam.

Ekonom Nahdlatul Ulama, Muhammad Aras Prabowo, menilai pertumbuhan 7,71 persen bukan sekadar angka statistik tahunan. Itu, katanya, cerminan arah kebijakan yang presisi.

“Sidrap hari ini menunjukkan bahwa daerah berbasis agraris bisa menjadi motor pertumbuhan jika dipimpin dengan strategi yang tepat. Ini bukan pertumbuhan instan. Ini pertumbuhan yang ditopang sektor riil,” tegas Aras.

Menurut akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) itu, kinerja Bupati SAR terlihat dari keberanian memperkuat fondasi: pertanian sebagai tulang punggung, perdagangan lokal sebagai penggerak, dan UMKM sebagai penguat daya tahan ekonomi.

Efeknya terasa.

Produksi meningkat. Perdagangan bergerak. Jasa dan transportasi ikut terdorong. Rantai ekonomi berputar lebih cepat.

“Ini yang saya sebut sebagai transformasi berbasis potensi lokal. Sidrap tidak bergantung pada ledakan sesaat. Ia tumbuh dari akarnya sendiri,” lanjut Aras.

Di tengah banyak daerah yang bertahan di angka lima persen, bahkan ada yang tercecer di bawah empat persen, Sidrap justru melesat. Fenomena outperforming growth — melampaui rata-rata regional — bukan hal biasa.

Bagi Aras, ini momentum penting.

“Citra Sidrap hari ini berubah. Dari sekadar lumbung pangan, menjadi contoh daerah dengan manajemen ekonomi yang efektif. Kepemimpinan Bupati SAR berhasil menerjemahkan potensi menjadi performa,” ujarnya.

Pernyataan itu bukan pujian kosong.

Data menunjukkan sektor primer tetap kuat, namun tak berhenti di produksi. Ada pergerakan nilai tambah. Ada penguatan UMKM. Ada ekosistem ekonomi yang saling menopang.

Sidrap kini tampil percaya diri. Bukan hanya juara angka, tapi simbol kebangkitan ekonomi daerah berbasis kerakyatan.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Benarkah Sidrap tumbuh?”

Jawabannya sudah jelas.

Pertanyaannya adalah: seberapa jauh Sidrap akan melesat jika ritme ini dijaga?

Dengan 7,71 persen di tangan, Sidrap tidak sekadar mencatat rekor. Ia sedang membangun reputasi.

Dan di panggung Sulawesi Selatan, nama Sidrap kini disebut lebih dulu. (*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.