Muna Barat, Katasulsel.com — Atmosfernya mulai terasa tegang. Bukan di ruang publik, tapi di balik pintu rapat pansel.
Di situlah nasib para kandidat ditentukan.
Panitia Seleksi Terbuka (Panselter) Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Kabupaten Muna Barat kini benar-benar berada di fase akhir. Ibarat pertandingan, ini sudah masuk injury time—waktu tambahan yang menentukan hasil akhir.
Targetnya jelas: Sabtu, 11 April 2026, tiga besar calon Sekretaris Daerah (Sekda) dan kepala OPD diumumkan ke publik.
Kepala BKPSDM Mubar, La Ode Khairul Ashar, memastikan prosesnya tinggal menunggu ketukan palu.
“Pansel sementara rapat penetapan. Setelah itu, langsung diumumkan,” ujarnya singkat.
Di balik kalimat singkat itu, ada proses panjang yang tidak sederhana.
Para peserta sudah melewati empat tahapan krusial. Mulai dari Assessment Center yang melibatkan Polda Sultra—semacam “tes medan” untuk mengukur karakter dan kepemimpinan.
Lalu berlanjut ke penulisan makalah. Di sini, gagasan diuji. Bukan sekadar pintar bicara, tapi mampu menuangkan ide secara sistematis.
Tahap berikutnya, wawancara kompetensi. Ini semacam deep interview—menggali lebih dalam kapasitas, pengalaman, hingga cara berpikir kandidat.
Terakhir, rekam jejak jabatan. Ini penting. Karena masa lalu sering jadi cermin masa depan.
Ashar menegaskan, tiga tahapan terakhir dinilai secara independen oleh tim pansel. Tidak ada ruang untuk “bisik-bisik”.
Istilah gampangnya: zero intervention.
“Tidak bisa diintervensi oleh siapapun,” tegasnya.
Pernyataan ini seperti garis tebal—menandai bahwa proses seleksi ingin dijaga tetap bersih di tengah sorotan publik.
Maklum, seleksi jabatan strategis sering kali diiringi kecurigaan. Mulai dari isu kedekatan, hingga dugaan “jalur khusus”.
Namun pansel mencoba membalik stigma itu.
Setelah tiga besar diumumkan, proses belum benar-benar selesai. Justru di situlah babak paling krusial dimulai.
Nama-nama tersebut akan diserahkan ke Bupati Muna Barat selaku Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK).
Dari tiga, akan dipilih satu.
Ini seperti final decision maker—keputusan akhir yang tidak bisa diganggu gugat.
Dan dari satu nama itu, arah birokrasi Muna Barat akan ditentukan.
Karena Sekda dan kepala OPD adalah titik sentral. Mereka bukan hanya pelaksana, tapi penggerak sistem.
Publik kini menunggu dengan rasa penasaran.
Siapa yang masuk tiga besar?
Dan siapa yang akhirnya berdiri sebagai pemenang?
Satu hal yang pasti: ini bukan sekadar seleksi jabatan. Ini adalah momen memilih masa depan birokrasi Muna Barat. (*)
