Pinrang, katasulsel.com — Tidak ada kabar. Yang ada hanya dugaan.

Seorang pelajar pelayaran asal Pinrang, Sulawesi Selatan, dilaporkan hilang di laut jauh dari rumahnya—di perairan Norwegia. Jaraknya ribuan kilometer. Tapi luka yang dirasakan keluarganya, tepat di sini. Di kampungnya sendiri.

Ia bukan nelayan.
Ia taruna.

Sedang belajar menjadi pelaut profesional. Sedang mengejar masa depan. Tapi justru laut yang menjadi ruang belajarnya, kini menyimpan tanda tanya paling besar.

Kabar itu datang tiba-tiba. Tidak utuh. Tidak jelas. Bahkan terkesan sepotong-sepotong.

Katanya, ia jatuh dari kapal.
Katanya, cuaca sedang buruk.
Katanya, sedang bertugas.

Tapi itu semua—baru “katanya”.

Yang belum ada: penjelasan resmi.

Keluarga di Pinrang masih menunggu. Bukan hanya kabar. Tapi kepastian. Apa yang sebenarnya terjadi di tengah laut sana?

Apakah ada saksi?
Bagaimana kronologinya?
Kapan terakhir terlihat?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung. Belum ada yang benar-benar menjawab.

Yang lebih berat: menunggu tanpa kepastian.

Di satu sisi, harapan belum padam. Laut itu luas, tapi keajaiban kadang lahir dari hal yang tak terduga. Di sisi lain, waktu terus berjalan. Dan setiap detik yang lewat—menambah kecemasan.

Ini bukan sekadar cerita kehilangan. Ini soal sistem.

Bagaimana mungkin seorang taruna yang sedang praktik di kapal internasional bisa hilang—tanpa penjelasan cepat dan transparan?

Di mana standar keselamatannya?
Bagaimana prosedur pengawasannya?
Siapa yang bertanggung jawab?

Kasus ini seharusnya tidak berhenti sebagai kabar viral. Ini harus menjadi alarm.

Bahwa taruna-taruna kita—yang dikirim belajar ke laut lepas—tidak boleh dibiarkan tanpa perlindungan maksimal.

Pemerintah harus bergerak. Cepat. Tidak menunggu.

Koordinasi dengan otoritas Norwegia harus dibuka. Pihak sekolah, perusahaan pelayaran, hingga kementerian terkait—harus satu suara.

Keluarga tidak butuh simpati.
Mereka butuh jawaban.

Dan untuk saat ini, di Pinrang—yang tersisa hanyalah doa… dan harapan yang belum menemukan ujungnya.

Gambar berita Katasulsel