Pinrang, Katasulsel.com β Awalnya tenang. Berakhir benturan.
Lima wisatawan harus menerima kenyataan pahit saat menikmati wahana ban air di Pantai Harapan Ammani, Selasa (31/3/2026).
Mereka terpental.
Bukan di tengah laut. Tapi justru saat hendak kembali ke tepi pantai.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Insiden itu terjadi di Desa Mattirotasi, Kecamatan Mattiro Sompe. Lokasi yang biasanya ramai wisatawan.
Kondisi laut sebenarnya bersahabat. Tenang. Tanpa ombak besar.
Perjalanan di tengah laut pun berjalan normal. Bahkan terasa seru.
Tidak ada tanda bahaya.
Namun situasi berubah drastis saat wahana ban air diarahkan kembali ke darat.
Diduga, pengemudi kapal penarik terlambat melakukan manuver.
Arah belokan tak tepat.
Jarak dengan bibir pantai terlalu dekat.
Dan di situlah semuanya terjadi.
βSepertinya pengemudi salah prediksi saat mau berbelok. Kami sudah terlalu dekat ke tepi,β ujar salah satu korban, Esty.
Wahana ban air gagal mengikuti arah dengan sempurna.
Penumpang terpental.
Terhempas.
Akibatnya, kelima wisatawan mengalami luka memar di beberapa bagian tubuh.
Esty sendiri merasakan dampaknya di betis, dada, dan leher.
Benturan keras tak terhindarkan.
Setelah kejadian, para korban langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Penanganan medis diberikan.
Pihak pengelola juga ikut bertanggung jawab. Biaya pengobatan ditanggung.
Namun insiden ini menyisakan pertanyaan.
Manuver di area padat wisatawan. Timing yang meleset. Risiko yang tak kecil.
Wahana yang seharusnya menghiburβ¦
Berubah jadi ancaman dalam hitungan detik.(*)
