GAYO LUES – Polemik bantuan Jatah Hidup (Jadup) bagi korban banjir hidrometeorologi di Kabupaten Gayo Lues mulai menjadi perbincangan warga. Sejumlah masyarakat di Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang, mengaku hingga kini belum menerima bantuan meski rumah mereka terdampak langsung saat bencana melanda.
Keluhan tersebut muncul setelah bantuan Jadup mulai disalurkan kepada sebagian warga. Namun, sejumlah korban mengaku tidak menemukan nama mereka dalam daftar penerima.
Padahal, menurut pengakuan warga, mereka telah melalui proses pendataan yang dilakukan setelah banjir terjadi.
Amrin (53), salah seorang warga Desa Badak, mengatakan dirinya termasuk warga yang rumahnya terdampak banjir. Ia mengaku sempat didata oleh petugas yang turun ke lokasi pascabencana, tetapi hingga saat ini belum menerima bantuan Jadup.
“Kami berharap ada penjelasan terkait data penerima bantuan. Karena setahu kami, kami juga ikut didata saat banjir terjadi,” katanya.
Keluhan serupa datang dari warga lainnya yang mengaku mengalami kerusakan rumah akibat banjir. Sebagian bahkan telah melakukan perbaikan secara mandiri karena harus segera menempati kembali rumah mereka.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai mekanisme penetapan penerima Jadup.
Bagi warga Desa Badak, bantuan tersebut bukan sekadar bantuan rutin. Jadup dianggap penting untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar keluarga setelah terdampak bencana.
Karena itu, mereka berharap pemerintah melakukan pengecekan ulang apabila memang masih terdapat korban yang belum terakomodasi dalam daftar penerima.
Persoalan bantuan pascabencana menjadi isu yang sensitif di daerah terdampak. Selain menyangkut kebutuhan hidup masyarakat, ketepatan data penerima juga menjadi faktor penting agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial di tengah warga.
Sejumlah warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait dapat melakukan verifikasi ulang terhadap data penerima bantuan di Desa Badak.
Mereka menilai langkah tersebut penting untuk memastikan seluruh korban banjir yang memenuhi kriteria mendapatkan hak yang sama.
Di sisi lain, masyarakat juga berharap ada penjelasan resmi terkait proses pendataan dan penyaluran Jadup agar informasi yang berkembang di tengah warga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Banjir yang melanda Kecamatan Dabun Gelang sebelumnya menyebabkan sejumlah rumah terdampak dan memaksa warga berupaya memulihkan kondisi tempat tinggal mereka secara bertahap.
Kini, di tengah proses pemulihan tersebut, harapan warga sederhana: bantuan yang diperuntukkan bagi korban bencana benar-benar diterima oleh mereka yang terdampak di lapangan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai keluhan sejumlah warga Desa Badak yang mengaku belum menerima bantuan Jadup. Media ini tetap membuka ruang konfirmasi dan hak jawab bagi seluruh pihak yang berkepentingan.
