PINRANG – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini identik dengan pemenuhan gizi anak sekolah mulai menunjukkan dampak ekonomi di Kabupaten Pinrang. Di balik ribuan porsi makanan yang disiapkan setiap hari, muncul peluang baru bagi petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Pemerintah Kabupaten Pinrang bersama Badan Gizi Nasional (BGN) kini membangun rantai pasok berbasis potensi lokal agar kebutuhan bahan baku MBG tidak bergantung dari luar daerah.

Jika skema ini berjalan maksimal, miliaran rupiah anggaran yang berputar dalam program nasional tersebut berpotensi kembali ke kantong masyarakat Pinrang melalui sektor pertanian, perikanan, peternakan dan usaha desa.

Wakil Bupati Pinrang Sudirman Bungi mengatakan, Program MBG tidak boleh hanya dipandang sebagai program pemberian makanan gratis, tetapi harus menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat.

Menurutnya, seluruh kebutuhan bahan baku idealnya dipenuhi oleh petani dan produsen lokal sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung masyarakat.

“Harapan kita seluruh kebutuhan bahan baku Program MBG dapat dipenuhi dari hasil produksi masyarakat Pinrang. Dengan begitu perputaran anggaran program ini akan kembali menggerakkan ekonomi daerah,” ujarnya dalam dialog bertema Benarkah MBG dan KDMP sebagai Mesin Penggerak Ekonomi Rakyat?.

Langkah tersebut mulai terlihat di Kecamatan Duampanua. Melalui pendampingan BGN, lahan yang disiapkan pemerintah desa kini dimanfaatkan petani lokal untuk membudidayakan bawang merah sebagai bagian dari rantai pasok MBG.

Koordinator Wilayah BGN Pinrang, Nining Anggraeni, mengungkapkan hasil panen perdana mencapai 218 kilogram. Dari awalnya hanya tujuh bedeng tanaman, kini berkembang menjadi 20 bedeng.

Menariknya, komoditas yang selama ini identik dengan Kabupaten Enrekang itu mulai menunjukkan potensi baru di Pinrang.

“Sebelumnya bawang merah terkenal dari Enrekang, tetapi ternyata Pinrang juga bisa menghasilkan bawang merah dengan kualitas yang baik,” ungkap Nining.

Tak hanya sektor pertanian, program MBG juga membuka pasar baru bagi BUMDes. Salah satu desa berhasil memasok ribuan ikan nila untuk kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut Nining, hingga saat ini sekitar 3.300 ekor ikan nila hasil budidaya masyarakat telah diserap sebagai bahan baku program MBG.

Jumlah tersebut diperkirakan terus bertambah seiring meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk mendukung program nasional tersebut.

Kondisi ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha desa yang selama ini kerap kesulitan mencari pasar tetap untuk hasil produksinya.

Pemkab Pinrang menilai, jika ekosistem ini terus berkembang, maka MBG bukan hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi generasi muda, tetapi juga mampu menciptakan siklus ekonomi baru yang melibatkan petani, nelayan, peternak, UMKM hingga BUMDes.

Di tengah tantangan ekonomi pedesaan, hadirnya pasar yang jelas dan berkelanjutan menjadi peluang besar untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Pinrang dan BGN berkomitmen memperluas kemitraan agar semakin banyak pelaku usaha lokal terlibat dalam rantai pasok Program Makanan Bergizi Gratis.

Bagi Pinrang, keberhasilan MBG nantinya tidak hanya diukur dari jumlah anak yang menerima makanan bergizi, tetapi juga dari seberapa besar program tersebut mampu menggerakkan ekonomi rakyat dari desa hingga kota.

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Enrekang Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Enrekang hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Enrekang terbaru di sini