Andoolo, katasulsel.com – Institut Agama Islam Rawa Aopa tidak mau akademisinya jalan di tempat. Menjelang panggung internasional International Conference on Finance and Banking (ICon-FiBank) 2026 dan International Postgraduate Research Conference (IPRC) 2026, kampus ini langsung tancap gas.

Bersama Institut Bisnis dan Keuangan NITRO, mereka menggelar Webinar Series jilid dua, Selasa (14/4/2026). Tema yang diangkat tidak main-main: komunikasi sains—skill yang selama ini sering diremehkan di dunia kampus.

Padahal, di era sekarang, problemnya bukan lagi sekadar research gap, tapi juga communication gap.

Banyak dosen dan peneliti kuat di metodologi, tapi “kedodoran” saat presentasi. Ujung-ujungnya? Riset hanya jadi arsip digital—rapi, tapi sepi dampak.

Di forum ini, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan ingin memutus rantai itu.

Wakil Rektor IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, bicara tanpa tedeng aling-aling. Ia menyebut, akademisi wajib punya kapasitas retorika ilmiah.

“Kalau tidak bisa dikomunikasikan, riset itu seperti disembunyikan,” tegasnya.

Di sinilah IAI Rawa Aopa Konawe Selatan mengambil peran. Bukan hanya mendorong publikasi, tapi juga memperkuat academic storytelling.

Istilah populernya di kampus: dari data-driven research naik kelas jadi impact-driven communication.

Peserta webinar dibedah habis:

Jangan jadikan slide sebagai “kuburan data”

Bangun opening hook yang kuat

Gunakan visual sebagai alat narasi, bukan pajangan

Jaga engagement, jangan bikin audiens “auto ngantuk”


Semua diarahkan pada satu tujuan: presentasi yang tajam, ringkas, dan meyakinkan.

IAI Rawa Aopa Konawe Selatan sadar, konferensi internasional bukan sekadar ajang baca makalah. Ini soal academic branding dan bahkan diplomasi intelektual.

Nama kampus dipertaruhkan di setiap slide.

“Ini bukan cuma forum ilmiah. Ini panggung global. Kita harus siap secara mental dan teknis,” lanjut Ismail.

Langkah agresif IAI Rawa Aopa Konawe Selatan ini juga jadi sinyal: kampus daerah tidak boleh lagi inferior. Harus berani tampil, bahkan bersaing.

Kolaborasi dengan IBK NITRO disebut sebagai strategi mempercepat capacity building akademisi.

Target akhirnya jelas: dosen dan peneliti dari Konawe Selatan tidak hanya hadir di forum internasional, tapi berbicara, didengar, dan diperhitungkan.

Karena di dunia akademik hari ini, satu hal tidak bisa ditawar:
yang menang bukan hanya yang paling pintar, tapi yang paling mampu menjelaskan dengan meyakinkan.

Pemimpin Redaksi
Mengawal kualitas, arah pemberitaan, dan independensi redaksi