Jakarta, Katasulsel.com – Rantai panjang peredaran senjata api ilegal di Jawa Barat akhirnya menemui titik terang. Aparat dari Bareskrim Polri mengungkap jaringan yang selama ini bergerak senyap, dengan menangkap sosok yang diduga menjadi otak di balik produksi senjata rakitan.
Pengungkapan ini berawal dari penangkapan seorang pria berinisial AS di kawasan Jatinangor, Senin (6/4/2026). Dari tangan AS, penyidik menemukan pistol jenis SIG Sauer P226, amunisi, serta komponen senjata yang belum dirakit.
Temuan itu menjadi pintu masuk bagi penyidik untuk membongkar jaringan yang lebih besar. Peran AS diduga hanya sebagai perantara, sementara sumber utama produksi masih tersembunyi.
Pengembangan cepat mengarah ke wilayah Rancaekek. Di dua lokasi berbeda, polisi menemukan indikasi kuat adanya aktivitas perakitan senjata api ilegal—mulai dari amunisi hingga peralatan teknis.
Di titik inilah sosok berinisial TS alias Ki Bedil ditangkap. Ia disebut bukan pemain baru. Penyidik menduga, aktivitasnya sudah berlangsung selama kurang lebih dua dekade.
Keahlian TS dalam merakit senjata menjadi faktor kunci. Ia tidak hanya memproduksi, tetapi juga memasok senjata ke berbagai pihak—mulai dari pelaku kejahatan jalanan hingga pemburu liar.
Kepala Satresmob Bareskrim Polri, Arsya Khadafi, menegaskan bahwa pengungkapan ini belum akhir. Justru, ini menjadi titik awal untuk membongkar jaringan yang lebih luas.
“Masih kami kembangkan,” ujarnya singkat.
Kasus ini memperlihatkan pola klasik dalam peredaran senjata ilegal: jaringan kecil, bergerak senyap, namun memiliki daya rusak besar. Produksi rumahan seperti yang diduga dilakukan TS menjadi ancaman serius karena sulit terdeteksi dan fleksibel dalam distribusi.
Di sisi lain, temuan ini juga membuka pertanyaan tentang pengawasan komponen senjata yang bisa dirakit secara mandiri. Tanpa kontrol ketat, celah ini berpotensi dimanfaatkan oleh jaringan lain.
Kini, penyidik berpacu dengan waktu untuk menelusuri alur distribusi dan kemungkinan adanya pelanggan tetap. Sebab, dalam kasus seperti ini, perakit hanyalah satu mata rantai—sementara pasar gelap senjata tetap menjadi magnet utama. (*)


