📣 Ikuti saluran resmi WhatsApp kami sebelum membaca berita!

Join WhatsApp

Enrekang, Katasulsel.com – Menjelang Ramadan, pasar selalu jadi “zona merah”. Harga bisa tiba-tiba meroket, daya beli ngos-ngosan, dan isu penimbunan jadi bisik-bisik di lorong lapak. Kamis (12/2/2026), Bupati Enrekang Yusuf Ritangnga memilih tak hanya duduk di balik meja. Ia turun langsung ke Pasar Sentral Enrekang, memastikan denyut ekonomi rakyat tetap stabil.

Didampingi Kapolres Enrekang AKBP Hari Budiyanto dan jajaran, Yusuf menyusuri lapak demi lapak. Ia tak sekadar menyapa. Ia bertanya. Berapa harga beras? Bagaimana stok minyak goreng? Cabai masih pedas di harga atau sudah pedas di kantong?

Langkah ini bukan sekadar inspeksi dadakan. Yusuf menyebutnya sebagai tindak lanjut instruksi Presiden RI kepada seluruh kepala daerah untuk mengendalikan harga bahan pokok menjelang Ramadan. Ia juga mengaku telah mengikuti rapat bersama Gubernur dan Forkopimda Sulsel.

“Ini instruksi langsung dari Bapak Presiden. Kami ingin memastikan harga dan ketersediaan tetap terjaga,” kata Yusuf di sela peninjauan.

Namun di balik formalitas instruksi pusat, ada pesan politik yang lebih dalam. Yusuf tahu, stabilitas harga jelang Ramadan bukan hanya soal ekonomi. Ini soal trust publik. Sekali harga melonjak liar, sentimen masyarakat bisa berubah drastis. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Dari pantauan di lapangan, sebagian besar harga relatif stabil. Tidak ada gejolak ekstrem. Tetapi beberapa komoditas tercatat naik secara terbatas. Di sinilah alarm dipasang. Bupati tak ingin ada efek domino yang membuat harga merangkak naik tanpa kendali.

“Kami ingin harga tetap terjangkau, terutama di momentum Ramadan,” tegasnya.

Yang menarik, Yusuf tak hanya mengandalkan imbauan. Ia secara terbuka meminta Kapolres bertindak tegas jika ada pedagang yang memainkan harga secara tidak wajar. Bahasa sederhananya: jangan coba-coba cari untung berlebihan di momen sakral.

Pesan ini penting. Di banyak daerah, kenaikan harga seringkali bukan semata karena distribusi atau stok, melainkan ulah oknum yang memanfaatkan panic buying. Ketika isu kelangkaan beredar, harga bisa naik karena psikologi pasar, bukan karena realitas pasokan. Di sinilah pemerintah daerah diuji: apakah sekadar memantau atau benar-benar mengendalikan.

Langkah Yusuf bisa dibaca sebagai strategi pre-emptive strike—mencegah sebelum meledak. Ia tidak menunggu viral dulu baru bergerak. Ia memilih hadir sebelum isu membesar.

Selain memeriksa harga, ia juga memantau daya beli masyarakat. Ini poin krusial. Stabilitas harga tanpa daya beli yang kuat tetap akan membuat pasar lesu. Pedagang tak laku, pembeli pun berat belanja. Ekonomi lokal jadi slow motion.

Kunjungan ini tak berhenti di Pasar Sentral Enrekang. Yusuf dijadwalkan melanjutkan sidak ke Pasar Sentral Belajen, Kecamatan Alla, Jumat (13/2/2026). Artinya, pengawasan tak hanya simbolik di pusat kota, tapi menyasar wilayah lain.

Ramadan memang selalu membawa dua sisi: berkah dan potensi gejolak harga. Di Enrekang, setidaknya, Bupati sudah memberi sinyal jelas—pemerintah tidak tidur. Ia turun gunung, memastikan pasar tetap rasional, bukan emosional.

Kini publik menunggu konsistensi. Sidak mudah dilakukan. Yang lebih sulit adalah menjaga stabilitas itu hingga hari raya tiba. Jika Yusuf mampu mengawal harga tetap waras, maka bukan hanya pasar yang tenang. Citra kepemimpinan pun ikut menguat (ZF)