JAKARTA, Katasulsel.com – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla, menegaskan dukungannya agar pasukan TNI tetap melanjutkan misi Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), meskipun tiga prajurit gugur akibat serangan Israel yang meningkat di wilayah itu.

Kalla menekankan, jatuhnya korban bukan alasan untuk menarik pasukan. “Negara, TNI, tidak seperti itu. Bahwa kalau ada korban yang tewas, langsung mundur, oh bukan itu saya kira jiwa TNI dan jiwa pemerintah,” ujar Kalla, Rabu (1/4/2026), dikutip dari Kompas TV.

Menurut dia, risiko adalah bagian dari tugas yang harus dihadapi prajurit. Penarikan pasukan secara mendadak justru bisa menimbulkan persepsi negatif di mata dunia.
“Tetap ada di situ, memang ada risikonya, tetapi tetap harus mengurusnya seperti itu. Jangan karena risiko seperti itu langsung kita menarik, nanti dunia menganggap kita penakut,” tambahnya.

Advertisement

Sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Kalla menekankan bahwa Indonesia bukan negara yang gentar menghadapi tantangan. Ia menyoroti kepemimpinan nasional saat ini, termasuk Presiden Prabowo Subianto.
“Tidak. Indonesia bukan negara penakut. Apalagi Pak Prabowo presidennya,” tegas Kalla.

Kalla juga menegaskan, insiden gugurnya tiga prajurit tidak terkait dengan Board of Peace (BoP) yang dibentuk Presiden AS Donald Trump, di mana Indonesia dan Israel disebut sebagai anggota. Menurutnya, serangan Israel sudah terjadi jauh sebelum BoP, termasuk di Gaza, yang ia sebut sebagai tindakan sewenang-wenang.

Di sisi lain, sejumlah pihak mendorong pemerintah mengevaluasi keterlibatan Indonesia dalam UNIFIL karena risiko keamanan meningkat. Anggota Komisi I DPR dari Fraksi NasDem, Amelia Angraini, menilai evaluasi penting untuk menyesuaikan kebijakan dengan kondisi lapangan.
“Pemerintah perlu melihat perkembangan situasi terkini dan melakukan evaluasi komprehensif,” ujarnya.

Advertisement

TNI telah lama berpartisipasi dalam misi perdamaian PBB, termasuk UNIFIL di Lebanon Selatan, yang bertugas menjaga stabilitas dan mencegah konflik bersenjata. Gugurnya tiga prajurit menjadi pengingat bahwa risiko selalu melekat dalam tugas menjaga perdamaian dunia. (*)

Gambar berita Katasulsel