Enrekang, katasulsel.com – Jalan itu tampak biasa saja. Berkelok, menanjak, lalu menurun tajam di antara perbukitan hijau Bamba Puang, Enrekang. Tapi Kamis siang, 9 Apil 2026 itu, ia berubah jadi sebuah tragedi yang merenggut segalanya dari sebuah keluarga kecil.
Sebuah mobil melaju dari arah Palopo. Tujuannya Mamasa. Di dalamnya, bukan sekadar penumpang—melainkan sebuah keluarga utuh: ayah, ibu, dan dua anak yang masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan.
Tak ada yang tahu pasti detik-detik sebelum itu terjadi. Apakah rem mulai kehilangan daya? Atau roda tergelincir di tikungan? Yang jelas, dalam sekejap, mobil itu keluar dari jalurnya… lalu hilang ke dalam jurang.
200 meter.
Jarak yang terlalu dalam untuk sekadar disebut kecelakaan biasa.
Suara benturan menggema dari dasar lembah. Warga yang mendengar langsung berhamburan. Mereka tahu, itu bukan kejadian kecil.
Di bawah sana, mobil sudah tak lagi berbentuk utuh. Logamnya terlipat. Kaca pecah berserakan.
Dan di antara puing itu, seorang ibu—Diniati Kadang Layuk (34)—terbaring tanpa nyawa.
Perjalanan panjang dari Luwu itu berakhir di titik paling sunyi.
Suaminya, Very (45), masih bernapas. Dua anak mereka, Siska yang baru 5 tahun dan Dapin yang masih 1 tahun, juga selamat. Tapi siapa yang bisa mengatakan mereka benar-benar selamat?
Mereka kehilangan pusat hidup mereka dalam satu kejadian.
Proses evakuasi berlangsung menegangkan. Warga dan petugas turun perlahan, menembus lereng curam, berpegangan pada akar dan batu. Tak mudah menjangkau lokasi jatuhnya kendaraan. Tapi tak ada yang mundur.
Di atas, suasana hening. Sesekali terdengar isak tangis.
Kasat Lantas Polres Enrekang, IPTU Muh. Ali, memastikan kejadian itu sebagai kecelakaan tunggal.
“Mereka dari Lamasi, Luwu, menuju Mamasa. Istri pengemudi meninggal dunia di lokasi. Suami dan dua anaknya selamat dan sudah dievakuasi,” katanya.
Kini, Very dan kedua anaknya dirawat di Puskesmas Kotu, Anggeraja. Luka mereka mungkin bisa sembuh. Tapi kehilangan itu—akan menetap lebih lama dari apa pun.
Bamba Puang, dengan segala keindahannya, kembali menunjukkan sisi lain yang tak banyak orang lihat. Jalan sempit, tikungan tajam, dan jurang dalam selalu mengintai siapa saja yang melintas.
Dan hari itu, sebuah keluarga dari Luwu harus membayar mahal—dengan satu nyawa yang tak akan pernah kembali. (*)


