Jakarta — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat gebrakan lagi.
Ia mengaku telah melakukan negosiasi rahasia dengan salah satu pemimpin tinggi Iran—tanpa sepengetahuan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Trump menekankan, orang yang dimaksud punya pengaruh besar di militer Iran. Tujuannya? Gencatan senjata.
Namun, Trump tidak sekadar bicara manis. Ia langsung memberi ultimatum: 48 jam bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz.
Jika gagal, dia mengancam akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar.
“Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat, sangat kuat. Kita lihat ke mana arahnya. Banyak titik kesepakatan, saya kira hampir semua poin,” ujar Trump, seperti dikutip dari konferensi persnya.
Iran: “Negosiasi? Palsu!”
Meski Trump yakin pembicaraan berlangsung, Iran membantah keras. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyebut klaim itu sebagai upaya memanipulasi pasar minyak dan keuangan dunia.
Sejumlah sumber menyebut, komunikasi AS-Iran sejauh ini terjadi melalui perantara, seperti Mesir, Pakistan, dan negara-negara Teluk.
Pejabat Pakistan bahkan menambahkan, pembicaraan langsung untuk mengakhiri konflik berpotensi digelar di Islamabad dalam waktu dekat.
Klaim negosiasi Trump langsung memengaruhi pasar. Saham menguat, harga minyak turun ke bawah US$100 per barel. Namun, di lapangan, ketegangan tetap tinggi.
Garda Revolusi Iran melaporkan serangan baru terhadap target AS dan Israel, termasuk Tel Aviv dan Dimona. Militer Israel menyatakan telah mendeteksi peluncuran rudal dari Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan operasi militer akan tetap berjalan, tapi membuka peluang kesepakatan jika kepentingan utama Israel tetap terjaga.
Iran tetap menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20% pasokan energi global. Trump mendesak agar jalur itu dibuka, tapi Teheran menolak sebelum serangan dihentikan.
Konflik yang pecah sejak akhir Februari ini telah menelan lebih dari 2.000 korban jiwa.(*)
