Pagi itu mungkin dimulai seperti hari-hari biasa. Ada rencana perjalanan. Ada obrolan di dalam kendaraan. Ada harapan menikmati waktu bersama. Namun nasib berkata lain. Dalam hitungan detik, semuanya berubah. Jalan yang dilalui untuk mencari suasana liburan justru menjadi titik akhir perjalanan hidup dua kakak beradik itu.
Di rumah duka, kesedihan tentu bukan hanya milik ibu, ayah, atau saudara dekat. Tetangga pun ikut larut. Sebab kehilangan seperti ini selalu terasa lebih dekat ketika korbannya adalah orang-orang yang dikenal baik, sederhana, dan punya jejak pengabdian yang nyata.
Duka keluarga Mustaki adalah duka banyak orang.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan darat, sejauh apa pun dan sesantai apa pun tujuannya, tetap menyimpan risiko. Jalan raya tak pernah benar-benar bisa ditebak. Satu kelengahan, satu keadaan tak terduga, bisa mengubah segalanya dalam sekejap.
Namun, di
Kenangan tentang dua saudari yang pergi bersama. Tentang satu keluarga yang harus menerima kehilangan ganda dalam satu hari. Tentang rumah yang malam itu dipenuhi pelukan, isak tangis, dan tatapan kosong orang-orang yang belum siap berpisah.
Liburan itu telah selesai. Tapi dukanya tinggal lama.
Dan bagi keluarga, barangkali luka ini tak akan pernah benar-benar sembuh. Sebab ada kepulangan yang tak lagi sama, ada nama-nama yang kini hanya bisa dipanggil dalam doa.
Sementara bagi orang-orang yang mengenal keduanya, Fanni dan Yessi akan tetap hidup dalam ingatan: sebagai dua perempuan pengabdi, dua saudari yang berpulang bersama, dan dua alasan mengapa rumah duka di Wongkaditi Barat malam itu basah oleh air mata.

Tinggalkan Balasan