Tipue Sultan — Sulsel Editor
Redaktur Katasulsel.com, mengawal isu publik dan pembangunan daerah
Artikel: 505 Lihat semua

Katasulsel.com, Gorontalo – Tak ada yang lebih menyayat daripada menunggu orang pulang, lalu yang tiba justru kabar duka.

Perjalanan yang semula diniatkan sebagai liburan keluarga berubah menjadi tragedi. Dua saudari asal Kota Gorontalo, Fanni Anelsia Mustaki dan kakaknya, Yessi Sukersi Mustaki, meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal di ruas Jalan Trans Sulawesi, Desa Sapa, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, Sabtu pagi, 14 Maret 2026.

Keduanya menumpangi mobil PO Garuda bernomor polisi DM 1195 BA. Kecelakaan terjadi sekitar pukul 06.30 Wita. Benturan keras dalam insiden itu merenggut nyawa dua perempuan yang selama ini dikenal aktif mengabdi di bidang masing-masing.

Yang membuat kisah ini terasa begitu pilu bukan hanya karena nyawa melayang di jalanan yang jauh dari rumah. Tetapi karena keduanya pulang ke Gorontalo bukan lagi dengan tawa, bukan pula membawa cerita liburan, melainkan dalam balutan duka yang pecah di rumah keluarga.

Sabtu malam, sekitar pukul 19.20 Wita, jenazah keduanya tiba di rumah duka di Kelurahan Wongkaditi Barat, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo. Sejak sore, keluarga dan warga sudah menunggu. Bukan untuk menyambut kepulangan biasa, tetapi untuk menerima kenyataan yang terasa terlalu berat dipercaya. Saat ambulans tiba, tangis pun pecah. Rumah yang mestinya menjadi tempat melepas rindu mendadak menjadi ruang kehilangan.

Yessi Sukersi Mustaki, 41 tahun, dikenal sebagai tenaga pendidik. Ia mengajar bahasa Inggris dan Mandarin. Sosoknya lekat dengan dunia pendidikan, dengan dedikasi, juga dengan kesabaran yang tak semua orang miliki. Di mata banyak orang, Yessi bukan sekadar guru. Ia adalah perempuan yang menyalakan harapan lewat pelajaran dan keteladanan.

Sementara adiknya, Fanni Anelsia Mustaki, bertugas sebagai Pranata Humas di bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi Gorontalo. Dunia kerjanya menuntut ketelitian, kecermatan, dan tanggung jawab. Di balik tugas itu, Fanni dikenal sebagai pribadi yang mengabdi dengan tenang.

Dua saudari. Dua pengabdian. Dua kehilangan sekaligus.

Kepergian mereka bukan hanya meninggalkan luka bagi keluarga, tetapi juga duka yang dalam bagi rekan kerja, sahabat, dan

orang-orang yang pernah berada dalam lingkaran hidup keduanya. Satu keluarga kehilangan anak-anak terbaiknya. Satu kampung kehilangan dua perempuan yang selama ini tumbuh, belajar, bekerja, dan memberi arti.

Tragedi seperti ini selalu menyisakan satu hal yang sulit dijawab: mengapa kebahagiaan bisa runtuh sedemikian cepat?

Bersambung…

Pagi itu mungkin dimulai seperti hari-hari biasa. Ada rencana perjalanan. Ada obrolan di dalam kendaraan. Ada harapan menikmati waktu bersama. Namun nasib berkata lain. Dalam hitungan detik, semuanya berubah. Jalan yang dilalui untuk mencari suasana liburan justru menjadi titik akhir perjalanan hidup dua kakak beradik itu.

Di rumah duka, kesedihan tentu bukan hanya milik ibu, ayah, atau saudara dekat. Tetangga pun ikut larut. Sebab kehilangan seperti ini selalu terasa lebih dekat ketika korbannya adalah orang-orang yang dikenal baik, sederhana, dan punya jejak pengabdian yang nyata.

Duka keluarga Mustaki adalah duka banyak orang.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan darat, sejauh apa pun dan sesantai apa pun tujuannya, tetap menyimpan risiko. Jalan raya tak pernah benar-benar bisa ditebak. Satu kelengahan, satu keadaan tak terduga, bisa mengubah segalanya dalam sekejap.

Namun, di atas semua itu, yang kini tersisa adalah doa dan kenangan.

Kenangan tentang dua saudari yang pergi bersama. Tentang satu keluarga yang harus menerima kehilangan ganda dalam satu hari. Tentang rumah yang malam itu dipenuhi pelukan, isak tangis, dan tatapan kosong orang-orang yang belum siap berpisah.

Liburan itu telah selesai. Tapi dukanya tinggal lama.

Dan bagi keluarga, barangkali luka ini tak akan pernah benar-benar sembuh. Sebab ada kepulangan yang tak lagi sama, ada nama-nama yang kini hanya bisa dipanggil dalam doa.

Sementara bagi orang-orang yang mengenal keduanya, Fanni dan Yessi akan tetap hidup dalam ingatan: sebagai dua perempuan pengabdi, dua saudari yang berpulang bersama, dan dua alasan mengapa rumah duka di Wongkaditi Barat malam itu basah oleh air mata.

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.