Sidrap, Sidraptimur.com — Kabupaten Sidenreng Rappang tak sekadar menjadi tuan rumah. Ia menjelma menjadi “panggung start” bagi ribuan mimpi yang datang dari berbagai penjuru Indonesia Timur.

Untuk pertama kalinya, Dangdut Academy 8 menggelar audisi resmi di Sidrap, Sulawesi Selatan. Dan hasilnya bukan sekadar ramai—tapi meledak.

Sejak pagi, Sabtu 25 April 2026, kawasan Kantor Bupati Sidrap sudah dipenuhi lautan manusia. Antrean mengular seperti grid start balapan, diisi peserta dari berbagai daerah: Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, hingga Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, bahkan Bengkulu.

Semua datang dengan satu tujuan: menembus layar nasional.

Namun seperti hukum alam audisi, tidak semua bisa melaju jauh.

Dari ribuan peserta, hanya 42 orang yang berhasil melewati “lap krusial” menuju tahap penjurian akhir melalui video booth. Di sinilah kualitas diuji tanpa kompromi—tanpa penonton, tanpa sorak, hanya suara dan karakter.

Penilaian dilakukan langsung oleh juri, termasuk Selfi Yamma, yang juga menjadi magnet tersendiri bagi peserta.

Kini, ke-42 nama itu berada di satu titik yang sama: menunggu panggilan resmi ke Jakarta. Sebuah fase yang dalam dunia audisi bisa disebut “parc fermé”—semua sudah selesai dilakukan, tinggal menunggu keputusan.

Pengumuman akhir dijadwalkan pada 31 Mei 2026.

Sidrap Naik Kelas, Bukan Sekadar Lokasi

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, tidak menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyebut momen ini sebagai sejarah baru bagi daerahnya.

“Ini menjadi kebanggaan bagi kami. Terima kasih kepada Indosiar yang telah mempercayakan Sidrap sebagai lokasi audisi,” ujarnya.

Kalimat itu bukan sekadar formalitas. Sebab selama ini, panggung-panggung besar kerap terpusat di kota besar. Sidrap membuktikan: daerah juga bisa jadi episentrum.

Atmosfer Emosional: Antara Haru dan Tekad

Kehadiran Andi Syaqirah sebagai bintang tamu menambah lapisan emosional acara. Ia bukan sekadar tampil, tapi pulang—kembali ke tanah yang pernah membentuk langkah awalnya.

“Saya terharu melihat semangat mereka. Ini bukti mimpi itu nyata,” ungkapnya.

Sementara Selfi Yamma memberi pesan sederhana tapi kuat: percaya diri.

Di tengah ribuan peserta, pesan itu seperti bahan bakar mental. Sebab di audisi seperti ini, suara bagus saja tidak cukup—mental harus tahan banting.

Kerja Kolektif di Balik Layar

Kesuksesan ini bukan hanya milik peserta. Di balik layar, ada kerja panjang yang tidak terlihat kamera.

Liaison Officer, Ilham Junaedy, menyebut semua pihak bergerak seperti tim balap yang solid: pemerintah daerah, Forkopimda, OPD, hingga media lokal.

“Ini kerja kolektif. Semua bergerak bersama,” ujarnya.

Bahkan, tim teknis disebut bekerja 24 jam penuh. Sebuah detail kecil yang menunjukkan bahwa event besar tidak pernah berdiri dari satu tangan saja.

Sidrap Jadi Episentrum Baru

Lebih dari sekadar angka 42 peserta, audisi ini meninggalkan jejak yang lebih besar.

Sidrap kini bukan lagi hanya daerah penghasil cerita lokal. Ia mulai diposisikan sebagai pusat lahirnya talenta dangdut dari Indonesia Timur.

Antusiasme lintas provinsi menjadi bukti bahwa akses menuju industri hiburan nasional semakin terbuka. Tidak lagi eksklusif untuk kota besar.

Ini seperti membuka jalur baru di peta—jalur yang selama ini ada, tapi jarang dilalui.

Perjalanan Belum Selesai

Audisi nasional masih berlanjut ke berbagai kota: Makassar, Balikpapan, Cirebon, Surabaya, hingga Jakarta. Jalur online pun tetap dibuka.

Artinya, kompetisi masih panjang.

Bagi 42 peserta dari Sidrap, posisi mereka saat ini belum aman. Ini baru awal dari trek yang lebih kompleks: seleksi lanjutan, tekanan panggung, hingga penilaian publik.

Harapan dari Sidrap

Namun satu hal sudah jelas.

Sidrap telah membuktikan bahwa bakat tidak mengenal batas geografis. Dari daerah yang dulu mungkin hanya jadi penonton, kini muncul sebagai pemain.

Dan di antara 42 nama itu, mungkin ada satu yang kelak berdiri di panggung besar, membawa nama daerahnya ke seluruh Indonesia.

Karena di balik setiap audisi, selalu ada satu cerita yang akhirnya berhasil.

Dan Sidrap—hari itu—telah menulis awal dari banyak cerita baru.(*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita