Makassar, katasulsel.com — Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan, suhu politik internal mulai menghangat.

Namun di tengah riak dukungan dan manuver elite, Munafri Arifuddin—yang akrab disapa Appi—justru memainkan strategi “air tenang”, sebuah gaya politik yang kerap identik dengan kekuatan tersembunyi atau silent power.

Alih-alih tampil agresif dalam bursa calon Ketua DPD I, Appi memilih narasi yang lebih membumi: membiarkan proses politik mengalir. Dalam bahasa politik praktis, ini bukan sekadar sikap santai, melainkan bentuk wait and see strategy—menunggu momentum sambil membaca arah angin dukungan di internal partai.

Di balik kesan kalem tersebut, peta kekuatan sebenarnya tidak bisa dianggap remeh. Dukungan dari mayoritas DPD II kabupaten/kota disebut telah mengerucut ke arah Appi. Dalam terminologi politik, kondisi ini sering disebut sebagai early endorsement advantage—modal awal yang bisa menjadi “tiket emas”, meski belum menjamin kemenangan final.

Namun, politik Golkar bukan sekadar soal angka dukungan di atas kertas. Ada faktor king maker, komunikasi elite, hingga “restu pusat” yang kerap menjadi variabel penentu. Dalam banyak kasus Musda, dinamika bisa berubah dalam hitungan jam—fenomena yang lazim disebut sebagai last minute deal.

Ketidakpastian jadwal Musda juga menambah lapisan kompleksitas. Agenda yang belum fix membuat ruang lobi tetap terbuka lebar. Ini menciptakan situasi fluid politics, di mana aliansi bisa cair dan konfigurasi dukungan masih sangat mungkin bergeser.

Di sinilah pendekatan Appi terlihat relevan. Dengan tidak terlalu membuka kartu sejak awal, ia menjaga posisi tawar tetap stabil. Strategi ini sering dipahami sebagai bagian dari political buffering—menahan tekanan sambil mengamankan basis dukungan.

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.