Sidrap, katasulsel.com — Di dunia audisi dangdut, strategi kadang sama pentingnya dengan suara.

Itulah yang sedang dimainkan Armayani jelang tampil di D’Academy 8 di Sidenreng Rappang.

Biasanya, peserta cukup menyiapkan dua lagu. Tapi Armayani memilih jalur berbeda: tiga lagu sekaligus.

Dalam istilah panggung, ini disebut “cadangan vokal”—semacam amunisi tambahan untuk membaca situasi di lapangan.

“Tiga lagu, nanti pilih yang mana cocok saat mentas,” ujarnya.

Bukan tanpa alasan. Di panggung DA, keputusan sering terjadi cepat. Juri bisa meminta perubahan tempo, warna lagu, bahkan karakter vokal. Di titik itu, fleksibilitas jadi kunci.

Tiga lagu yang ia siapkan bukan sembarang pilihan.

Ada lagu “Kamu Istimewa” dari Melly Lee, yang dikenal dengan nuansa emosional dan teknik vokal lembut.

Lalu “Mengejar Badai” yang dipopulerkan Selfi Yamma, lagu yang sudah punya “DNA panggung DA”—kuat, tinggi, dan penuh tantangan teknik.

Satu lagi adalah lagu dari Mirnawati, yang lebih bernuansa klasik dangdut dengan cengkok yang khas.

Tiga karakter berbeda. Tiga rasa berbeda. Tiga “senjata” dalam satu panggung.

Di dunia dangdut, ini bukan sekadar variasi lagu. Ini disebut “mapping emosi”—cara penyanyi membaca karakter panggung sebelum tampil.

Armayani sadar, di DA bukan hanya suara yang diuji, tapi juga kemampuan memilih lagu yang tepat di waktu yang tepat.

Karena sering kali, yang membuat peserta lolos bukan lagu tersulit, tapi lagu yang paling “kena di hati juri”.

Keputusan membawa tiga lagu ini juga menunjukkan satu hal: ia tidak ingin tampil setengah-setengah.

Di Sidrap, panggung sudah disiapkan. Lampu, juri, dan tekanan sudah menunggu.

Sekarang tinggal satu hal: lagu mana yang akhirnya akan ia pilih ketika nama Armayani dipanggil ke atas panggung.(*)

Pemimpin Redaksi
Mengawal kualitas, arah pemberitaan, dan independensi redaksi