SIDRAP — Sirkuit Puncak Mario kembali berubah wajah. Bukan sekadar lintasan aspal, tapi panggung adrenalin yang bergetar dari suara mesin hingga sorak penonton.
Ajang Yamaha Cup Race 2026 Sidrap sukses digelar 18–19 April 2026, menghadirkan sekitar 3.500 penonton yang memenuhi area sirkuit.
Yang menarik, event tahun ini bukan hanya soal balapan lama yang sudah dikenal. Ada “rasa baru” yang sengaja dihadirkan: MAXi Race dan Endurance GEAR Ultima. Dua kategori ini seperti memberi napas segar pada kompetisi yang sudah lama jadi ikon pembinaan balap di daerah.
Night race juga kembali dihidupkan lewat MAXi Drag Combat. Lampu, suara knalpot, dan tensi balap malam hari membuat suasana Sidrap seperti berubah jadi arena urban race mini.
Hampir 500 starter turun di 15 kelas. Dari bebek 2-tak, matic standar, sampai MAXi GP 250cc ke atas. Ini bukan sekadar lomba cepat-cepatan, tapi juga peta kecil ekosistem motor Yamaha di Indonesia timur.
Di kelas paling bergengsi, nama Ikhsan Lala kembali mencuat. Ia keluar sebagai juara umum open, sekaligus menunjukkan konsistensi di beberapa kelas berbeda.
Sementara di kategori novice, Muh Nur Rafly tampil sebagai juara umum, menandai regenerasi pembalap yang mulai terbentuk.
Menariknya, Ikhsan tidak hanya menang—ia hampir “mendominasi lintasan” dengan kemenangan di beberapa kelas sekaligus. Di dunia balap, ini biasanya disebut bukan sekadar cepat, tapi “punya paket lengkap”.
Yamaha Cup Race sendiri memang punya posisi unik. Ia bukan sekadar event hiburan, tapi juga jalur pembibitan. Banyak pembalap nasional lahir dari arena seperti ini sebelum naik ke level lebih tinggi.
Sidrap lagi-lagi menjadi salah satu titik penting. Bukan hanya karena sirkuitnya, tapi karena kultur balapnya yang sudah mengakar. Dari komunitas sampai pembalap muda, semuanya tumbuh di ekosistem yang sama: gas, latihan, dan kompetisi.
Kategori baru seperti Endurance GEAR Ultima juga memperlihatkan arah perubahan: balap tidak lagi hanya soal sprint, tapi juga ketahanan, strategi, dan kerja tim.
Di tengah sorak penonton, satu hal terasa jelas: balap motor di daerah bukan lagi acara pinggiran. Ia sudah jadi industri kecil yang hidup—dengan penonton, komunitas, dan regenerasi yang terus bergerak.(*)
