Sidrap, katasulsel.com — Di lintasan lurus Sirkuit Puncak Mario, ada satu pemandangan yang langsung mencolok: Eca Sabana sendirian di tengah dominasi pembalap pria.
Tapi justru dari situ ceritanya jadi menarik.
Pembalap asal Banten bernama lengkap Ressa Fauziah itu bukan hanya “ikut tampil”. Ia pulang dengan dua podium sekaligus di Yamaha Cup Race 2026, Sidrap.
- Posisi 3 kelas YTMDB Bracket 9 detik
- Posisi 2 kelas Maxi GP Semi Pro 155cc Open
Yang unik bukan sekadar hasilnya. Tapi posisinya di paddock: satu-satunya pembalap wanita di kelas itu.
Artinya, Eca tidak punya “kategori khusus”. Tidak ada kelas terpisah. Tidak ada pengurangan tekanan. Semua sama: start, gas, dan adu reaksi.
Di sinilah letak cerita yang jarang terjadi di drag race nasional.
Biasanya, pembicaraan di kelas ini soal mesin: upgrade, setting, ECU, dan tenaga. Tapi Eca datang dengan kondisi yang ia akui sendiri—motor lawan banyak yang sudah lebih siap secara teknis.
Namun hasil di lintasan justru membalik logika itu.
“Awalnya sempat minder,” katanya.
Tapi setelah start, yang bicara bukan lagi perasaan—melainkan waktu tempuh.
Yang menarik, Eca tidak tampil dengan gaya agresif berlebihan. Justru sebaliknya: tenang, stabil, dan konsisten. Di drag race, gaya seperti ini sering lebih mematikan dibanding sekadar nekat gas.
Di paddock, ia juga membawa beban lain: label “pembalap wanita di kelas pria”. Tapi di Sidrap, label itu perlahan hilang, tergantikan oleh hasil.
Julukan “Ratu Matic” bukan lagi sekadar sebutan media sosial. Di lintasan, itu mulai punya pembuktian.
Hal unik lainnya: Eca bukan hanya bersaing, tapi juga menggeser rasa percaya diri lawan yang terbiasa mendominasi kelas tersebut. Kehadiran satu pembalap wanita yang konsisten finis di podium otomatis mengubah psikologi persaingan.
Karena di balap lurus, tekanan bukan cuma dari mesin. Tapi juga dari siapa yang berdiri di sebelah garis start.
Dan di Sidrap kali ini, salah satu “tekanan” itu datang dari seorang perempuan—yang justru pulang membawa piala.
