KENDARI, katasulsel.com — Ada perubahan pendekatan yang cukup menarik di Kota Kendari. Bukan soal bantuan modal langsung, bukan pula sekadar pelatihan jualan online. Tapi sesuatu yang lebih “diam-diam menentukan”: cara mencatat uang.
Pemerintah Kota Kendari mulai mendorong penerapan SAK EMKM (Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah) sebagai kunci pembuka akses permodalan UMKM.
Di atas kertas, ini terdengar teknis. Tapi di lapangan, dampaknya bisa sangat praktis: tanpa laporan keuangan yang rapi, akses modal bisa tertutup.
Kepala Dinas Perindag, Koperasi dan UKM Kota Kendari, Sarifuddin, menyebut perubahan ini sebagai pergeseran cara pandang.
“SAK EMKM bukan lagi beban, tapi instrumen strategis,” ujarnya.
Kalimat ini menarik karena menggeser posisi pembukuan dari sekadar urusan administrasi menjadi alat negosiasi dengan bank dan investor.
Artinya, UMKM tidak cukup lagi hanya “laku”. Tapi juga harus “tercatat”.
Di sinilah sisi uniknya: usaha kecil kini tidak hanya dinilai dari produk, tapi juga dari kerapian angka di belakangnya.
Logikanya sederhana. Bank dan lembaga pembiayaan tidak hanya melihat omzet, tapi juga konsistensi, arus kas, dan laporan usaha. Dan semua itu hanya bisa dibaca kalau pembukuan tertib.
Dengan SAK EMKM, UMKM diharapkan punya “bahasa yang sama” dengan dunia perbankan.
Namun tantangannya tidak kecil.
Banyak pelaku usaha mikro yang selama ini menjalankan bisnis secara informal—uang usaha dan uang rumah tangga sering bercampur. Di titik ini, perubahan pola pikir menjadi tantangan terbesar, bukan sekadar kemampuan teknis.
Pemerintah Kota Kendari melihat ini sebagai proses jangka panjang. Bahkan hingga 2027, kebijakan disebut akan dibuat lebih berbasis data untuk mendorong UMKM naik kelas.
Di balik itu, ada pesan yang cukup tegas: masa depan usaha kecil tidak hanya ditentukan oleh penjualan, tapi juga oleh disiplin mencatatnya.
Dengan kata lain, di era ini, pembukuan bukan lagi urusan belakang meja. Tapi sudah menjadi pintu depan menuju akses modal.
Dan di Kendari, pintu itu mulai dibuka lewat angka-angka yang rapi. (*)
