Surabaya, katasulsel.com — Ada satu pola menarik yang mulai terbaca dari rangkaian turnamen domino nasional: peta besarnya tidak lagi lokal, tapi mulai tersambung antar kota.
Setelah sebelumnya digelar di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, kini giliran Surabaya menjadi panggung lanjutan dalam format yang sama—tapi dengan nuansa yang lebih “institusional”.
Di Surabaya, Wakil Wali Kota Armuji bahkan menyebut domino kini sudah masuk kategori olahraga pikiran yang terstruktur dan bisa dipertanggungjawabkan secara organisasi.
Pernyataan ini penting, karena di titik ini domino tidak lagi dipandang sekadar permainan santai di warung kopi, tapi mulai diposisikan sebagai kompetisi dengan sistem, aturan, dan induk organisasi resmi.
Namun yang paling menarik justru perbandingan tidak langsung dengan Sidrap.
Di Sidrap, turnamen serupa sebelumnya disebut mampu menghadirkan lebih dari 3.000 peserta. Sementara di Surabaya, jumlahnya tercatat 1.536 peserta (768 pasangan) dengan hadiah mencapai Rp200 juta.
Secara angka, Sidrap terlihat lebih “ramai”. Tapi Surabaya membawa pendekatan berbeda: legitimasi kelembagaan dan dampak ekonomi kota besar.
Di Surabaya, efek turnamen tidak berhenti di meja pertandingan. Ribuan peserta dari berbagai daerah ikut menggerakkan UMKM, kuliner, hingga okupansi hotel.
Di Sidrap, efeknya lebih terasa sebagai “gelombang massa”, sementara di Surabaya lebih terlihat sebagai efek ekonomi kota yang terukur.
Ketua Umum KONI Jatim, Muhammad Nabil, bahkan menegaskan turnamen ini bisa menjadi jalur pembinaan atlet domino berprestasi. Artinya, ada upaya membawa domino keluar dari sekadar event, menuju jalur prestasi olahraga formal.
Sementara itu, Ketua Umum PB PORDI, Andi Jamaro Dulung, menekankan bahwa domino sudah masuk fase pembinaan terstruktur dengan aturan resmi organisasi.
“Ini bukan lagi sekadar permainan hiburan,” ujarnya.
Di sisi lain, pihak penyelenggara HGI menyebut rangkaian turnamen ini memang didesain berkelanjutan—setelah Sidrap dan Surabaya, berikutnya akan bergulir ke Padang dan Bekasi.
Di sinilah benang merahnya terlihat.
Sidrap menjadi titik ledak awal massa peserta. Surabaya menjadi titik penguatan legitimasi dan dampak ekonomi.
Keduanya menunjukkan dua wajah yang berbeda dari satu fenomena yang sama: domino sedang bergerak dari ruang santai menuju panggung kompetisi nasional yang lebih serius.
Dan dari Sidrap ke Surabaya, satu hal mulai jelas—ini bukan lagi sekadar permainan. Tapi sedang dibangun sebagai ekosistem. (*)
