Bandar Lampung, Katasulsel.com — Saat Presiden Prabowo Subianto menjalani kunjungan kerja di Lampung, pemandangan tak biasa muncul di Bundaran Tugu Adipura, Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026).

Tiga pemuda berdiri membisu dengan bibir yang dijahit menggunakan benang medis. Tanpa pengeras suara dan tanpa orasi panjang, aksi tersebut menjadi simbol protes terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi yang mereka nilai semakin jauh dari harapan masyarakat.

Aksi jahit mulut itu langsung menyita perhatian warga dan pengguna jalan yang melintas di pusat Kota Bandar Lampung. Sejumlah pengendara tampak memperlambat laju kendaraan untuk melihat lebih dekat, sementara beberapa lainnya mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam.

Para demonstran membawa poster dan spanduk berisi kritik terhadap berbagai persoalan nasional. Mulai dari melemahnya daya beli masyarakat, tekanan ekonomi yang dirasakan warga, persoalan pendidikan, hingga kekhawatiran terhadap kondisi demokrasi dan ruang kebebasan sipil.

Bagi peserta aksi, jahitan di bibir bukan sekadar bentuk teatrikal jalanan. Simbol itu dimaknai sebagai representasi suara rakyat yang mereka anggap semakin sulit terdengar di tengah berbagai kebijakan dan dinamika politik nasional.

Momentum kedatangan Presiden Prabowo ke Lampung sengaja dipilih untuk menyampaikan pesan tersebut. Mereka berharap kritik yang disampaikan dapat menarik perhatian publik sekaligus menjadi pengingat bahwa masih banyak persoalan masyarakat yang menuntut perhatian serius pemerintah.

Meski berlangsung di tengah agenda kunjungan kepala negara, aksi berjalan kondusif dengan pengawasan aparat keamanan. Tidak terjadi bentrokan maupun gangguan terhadap aktivitas masyarakat di sekitar lokasi.

Sebelumnya, beredar informasi bahwa aksi tersebut berkaitan dengan organisasi mahasiswa tertentu. Namun, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lampung melalui pernyataan resminya menegaskan tidak terlibat dalam kegiatan tersebut dan menyebut aksi itu bukan agenda organisasi maupun hasil keputusan struktur resmi LMND.

Terlepas dari polemik mengenai identitas penyelenggara, aksi jahit mulut di Tugu Adipura menjadi salah satu peristiwa yang paling menarik perhatian selama kunjungan Presiden di Lampung. Di tengah rangkaian agenda pemerintahan, simbol perlawanan yang ditampilkan para demonstran memunculkan kembali diskusi publik mengenai kondisi ekonomi, ruang demokrasi, dan kebebasan menyampaikan pendapat.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa demonstrasi tidak selalu hadir dalam bentuk kerumunan besar dan orasi lantang. Dalam sejumlah momentum politik penting, aksi simbolik justru kerap menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan pesan dan menarik perhatian masyarakat.

Kunjungan Presiden ke Lampung pada akhirnya tidak hanya diwarnai agenda pembangunan dan pemerintahan, tetapi juga suara kritis dari jalanan. Di bawah bayang-bayang spanduk tuntutan dan bibir yang dijahit rapat, para demonstran berusaha menyampaikan satu pesan yang sama: bahwa kritik dan aspirasi publik tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi.