Oleh: Edy Basri
SAYA selalu percaya satu hal.
Air tidak pernah bisa berbohong.
Kalau hulunya rusak, air akan keruh.
Kalau hutannya gundul, air akan berubah warna.
Kalau manusia serakah, sungai menjadi tempat sampah.
Karena itu saya selalu penasaran ketika mendengar ada sebuah tempat di Konawe yang airnya disebut-sebut masih steril. Kata yang jarang dipakai sekarang. Apalagi di zaman ketika banyak sungai lebih sering membawa plastik daripada ikan.
Namanya Batu Lapis.
Sebuah permandian alam di Desa Garuda, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Namanya sederhana. Tidak terdengar seperti kawasan wisata premium. Tidak ada embel-embel “park”, “resort”, atau “eco adventure” yang sedang tren dalam dunia pariwisata.
Tapi justru di situlah kekuatannya.
Batu Lapis tidak menjual nama.
Ia menjual alam.
Dan alam yang asli selalu punya pasar.
Setiap akhir pekan, ratusan orang datang ke sana. Mereka membawa anak-anak. Membawa tikar. Membawa bekal. Sebagian hanya ingin merendam kaki. Sebagian lagi ingin melarikan diri sejenak dari panasnya kehidupan sehari-hari.
Yang mereka cari bukan kemewahan.
Yang mereka cari adalah ketenangan.
Di era ketika orang rela membayar mahal untuk menikmati konsep healing, Batu Lapis ternyata sudah memilikinya sejak lama.
Gratis dari alam.
Kepala Desa Garuda, Muhlis Abdu Musa, bercerita bahwa air yang mengalir di kawasan itu berasal langsung dari mata air pegunungan.
Tidak ada pemukiman di bagian atas.
Tidak ada limbah rumah tangga.
Tidak ada aktivitas yang mengganggu sumber air.
Karena itulah kejernihan sungai masih terjaga.
Saya membayangkan air itu.
Mengalir diam-diam dari perut gunung.
Melewati akar-akar pohon.
Menyusuri bebatuan.
Lalu tiba di Batu Lapis dalam keadaan sebening kaca.
Air seperti itu sekarang mulai menjadi barang mewah.
Bukan karena mahal.
Tetapi karena langka.
Yang menarik, Batu Lapis bukan hanya menyegarkan tubuh.
Ia juga menghidupkan ekonomi desa.
Di banyak tempat, pariwisata sering menjadi milik investor.
Di Batu Lapis, pariwisata masih menjadi milik warga.
Warung-warung kecil berdiri di sekitar kawasan permandian.
Penjual gorengan.
Pedagang minuman.
Penjual makanan tradisional.
Mereka tidak memiliki saham.
Tidak punya perusahaan.
Tetapi mereka memiliki sesuatu yang lebih penting.
Mereka memiliki kesempatan.
Dan kesempatan itu datang bersama para wisatawan.
Seorang pedagang bernama Mardiana mengaku omzetnya bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta saat akhir pekan.
Ketika Lebaran atau Tahun Baru datang, pendapatannya bisa melonjak hingga Rp4 juta dalam sehari.
Bagi kota besar, angka itu mungkin biasa.
Bagi desa, itu berarti banyak.
Itu uang sekolah anak.
Itu biaya dapur.
Itu harapan.
Saya sering melihat banyak daerah sibuk membangun destinasi wisata baru.
Membangun gerbang megah.
Membangun patung besar.
Membangun ikon buatan.
Kadang menghabiskan anggaran miliaran rupiah.
Tetapi lupa menjaga yang sudah ada.
Batu Lapis justru kebalikannya.
Alamnya sudah menyediakan atraksi utama.
Sungainya ada.
Hutannya ada.
Airnya ada.
Pengunjungnya juga sudah datang.
Yang belum sepenuhnya ada adalah fasilitas pendukung.
Gazebo masih terbatas.
Mushola membutuhkan perhatian.
Beberapa sarana dasar perlu diperbaiki.
Padahal dalam industri pariwisata modern, daya tarik alam hanyalah satu bagian dari ekosistem destinasi.
Ada yang disebut amenitas.
Ada aksesibilitas.
Ada kenyamanan.
Ada pengalaman wisata.
Semua harus berjalan bersama.
Muhlis memahami itu.
Karena itulah ia berharap pemerintah daerah maupun provinsi ikut turun tangan.
Bukan mengambil alih.
Tetapi memperkuat.
Bukan mengganti masyarakat.
Tetapi mendampingi mereka.
Saya setuju.
Sebab Batu Lapis memiliki sesuatu yang tidak bisa dibangun dengan uang.
Keaslian.
Authenticity.
Kata yang sangat mahal dalam dunia pariwisata saat ini.
Wisatawan modern tidak lagi selalu mencari bangunan megah.
Mereka mencari pengalaman yang jujur.
Mereka mencari tempat yang masih punya cerita.
Dan Batu Lapis memiliki cerita itu.
Tentang desa yang menjaga mata airnya.
Tentang pemuda yang membersihkan sungai setiap hari.
Tentang pedagang kecil yang menggantungkan harapan pada wisatawan.
Tentang alam yang masih setia memberikan kehidupan.
Ketika saya mendengar seorang pengunjung bernama April mengatakan bahwa tempat itu bersih dan nyaman, saya justru merasa itulah promosi terbaik yang bisa didapat Batu Lapis.
Bukan baliho.
Bukan iklan.
Bukan video promosi.
Melainkan kesan tulus dari orang yang datang dan merasa puas.
Pariwisata memang sering berbicara tentang jumlah pengunjung.
Tentang okupansi.
Tentang pendapatan.
Tentang investasi.
Tetapi sesungguhnya pariwisata yang bertahan lama selalu dimulai dari hal sederhana.
Air yang bersih.
Alam yang dijaga.
Dan masyarakat yang merasa memiliki.
Batu Lapis sudah memiliki ketiganya.
Tugas berikutnya tinggal memastikan agar air yang tidak bisa berbohong itu tetap mengalir jernih hingga bertahun-tahun ke depan.
