Oleh: Edy Basri

El Nino bukan mitos, kawan.

Ia benar-benar nyata.

Setiap kali datang, petani selalu waspada. Air berkurang. Tanah mengering. Jadwal tanam berubah. Risiko gagal panen meningkat.

Karena itu, ketika membaca pernyataan Saiful, rekan saya, bahwa El Nino tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi beras di Sidrap, saya justru tidak sependapat.

Saya justru melihat ada sebuah cerita yang lebih besar.

Tent, bukan tentang El Nino yang menyapa Sidrap saat ini lemah.

Tetapi tentang Sidrap yang berhasil lebih kuat.

Setahu saya, El Nino hampir selalu membawa konsekuensi, tak terkecuali di sektor pertanian.

Kementerian Pertanian bahkan pernah mengingatkan bahwa fenomena ini berpotensi menurunkan luas panen dan produktivitas berbagai komoditas pangan.

Lalu, mengapa Sidrap masih mampu mempertahankan produksi?

Jawabannya sederhana.

Karena sebelum El Nino datang, Sidrap sudah bersiap.

Jauh sebelum musim kemarau mencapai puncaknya, Pemerintah Kabupaten Sidrap menggelar berbagai rapat koordinasi pangan, mempercepat musim tanam, menyiapkan program listrik masuk sawah, memperkuat irigasi perpompaan, serta mendorong peningkatan produktivitas minimal 10 ton per hektare.

Saat kemarau mulai menggigit, intervensi itu semakin diperkuat.

Tercatat 2.193 titik bor disiapkan untuk melayani sekitar 10.965 hektare sawah terdampak kekeringan. Bantuan pompa, BBM, tabung gas, hingga token listrik disalurkan agar petani tetap mendapatkan air.

Di titik inilah saya melihat perbedaan penting.

Jika sebuah daerah mampu bertahan setelah mengerahkan seluruh sumber dayanya, maka kesimpulannya bukan “El Nino tidak berpengaruh.”

Justru sebaliknya.

El Nino berpengaruh.

Tetapi pengaruh itu berhasil dikalahkan.

Dan mengalahkan dampak El Nino tentu jauh lebih membanggakan daripada sekadar mengatakan El Nino tidak berpengaruh.

Sebab keberhasilan Sidrap bukan lahir dari keberuntungan cuaca.

Keberhasilan itu lahir dari perencanaan.

Dari kebijakan.

Dari kerja penyuluh.

Dari pompa yang bekerja siang malam.

Dari petani yang tidak menyerah ketika air mulai sulit didapatkan.

Buktinya terlihat di lapangan.

Produksi gabah masih berada pada kisaran 10 ton per hektare. Di beberapa lokasi bahkan dilaporkan mencapai lebih dari 12 ton per hektare. Dari sekitar 52 ribu hektare lahan sawah, sebagian besar tetap memasuki masa panen meski musim kering berlangsung.

Karena itu, menurut saya, kalimat yang lebih tepat adalah:

El Nino datang ke Sidrap.

Tetapi gagal menjatuhkan produksi gabahnya.

Dan dalam dunia pertanian, itu bukan kalimat biasa.

Itu adalah pengakuan bahwa ketahanan pangan tidak lahir dari langit yang selalu bersahabat, melainkan dari manusia yang mampu bekerja lebih cepat daripada ancaman yang datang.

Di situlah letak cerita besar Sidrap hari ini.

Bukan karena El Nino tidak ada.

Melainkan karena Sidrap berhasil menaklukkannya. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini