Konawe, Katasulsel.com — Bayangkan ribuan tenda berdiri berjejer di tepi laut.
Di depan, hamparan pasir dan ombak membentang sejauh mata memandang. Di belakangnya, aktivitas UMKM, panggung kreativitas, hingga kegiatan kepemudaan berlangsung dalam satu kawasan.
Gambaran itulah yang ingin diwujudkan di Tanjung Lalimbue, sebuah kawasan pesisir yang membentang sekitar 1,8 kilometer di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Wakil Bupati Konawe sekaligus Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Konawe, Syamsul Ibrahim, mulai menyiapkan kawasan tersebut sebagai lokasi perkemahan tahunan yang diproyeksikan menjadi salah satu agenda terbesar di daerah itu.
Namun targetnya bukan sekadar membuat peserta Pramuka berkumpul dan berkemah.
Lebih jauh dari itu, Tanjung Lalimbue ingin dibangun menjadi destinasi yang memiliki identitas sendiri.
“Kita ingin membuat kemah eksklusif di kawasan Tanjung Lalimbue. Bukan hanya kegiatan Pramuka, tetapi juga memperkenalkan potensi wisata yang dimiliki Konawe,” kata Syamsul, Minggu (30/8/2026).
Kawasan yang dipersiapkan membentang dari Pantai Batu Gong hingga wilayah pesisir Desa Tombatu dan Desa Lalimbue.
Panjang garis pantainya mencapai sekitar 1,8 kilometer, menciptakan ruang terbuka yang sangat luas untuk berbagai aktivitas.
Dari Pantai Biasa Menjadi Ikon Baru Konawe
Selama ini Tanjung Lalimbue dikenal karena panorama lautnya yang masih alami.
Namun di tangan para penggagasnya, kawasan itu sedang diarahkan menjadi sesuatu yang lebih besar.
Bukan hanya objek wisata, melainkan kawasan yang hidup sepanjang tahun melalui berbagai agenda kepemudaan, edukasi lingkungan, wisata alam, hingga festival masyarakat.
Konsepnya mirip sebuah “camping tourism destination”, yakni destinasi yang menjadikan pengalaman berkemah sebagai daya tarik utama wisata.
Jika terwujud, peserta yang datang bukan hanya menikmati kegiatan Pramuka, tetapi juga pengalaman menyaksikan matahari terbit dari bibir pantai, jelajah pesisir, edukasi konservasi laut, hingga wisata bahari yang dapat dikembangkan di masa mendatang.
Ribuan Orang, UMKM Ikut Bergerak
Daya tarik terbesar dari rencana ini bukan hanya pada bentangan pantainya.
Tetapi pada efek ekonomi yang dapat ditimbulkan.
Setiap kegiatan tahunan berpotensi menghadirkan ribuan peserta dan pengunjung.
Artinya, warung makan, pedagang kuliner, pelaku ekonomi kreatif, penyedia jasa transportasi, hingga UMKM lokal memiliki peluang menikmati perputaran ekonomi yang jauh lebih besar.
Tanjung Lalimbue tidak lagi hanya menjadi tempat orang datang melihat laut.
Melainkan menjadi kawasan yang menghadirkan aktivitas, pergerakan ekonomi, dan promosi daerah dalam waktu bersamaan.
Konawe Ingin Punya Destinasi yang Punya Cerita
Menurut Syamsul, setiap daerah membutuhkan ikon yang tidak sekadar indah untuk dipandang, tetapi juga memiliki cerita.
Karena itu, agenda perkemahan tahunan ini diharapkan menjadi identitas baru Konawe.
Ketika orang mendengar nama Tanjung Lalimbue, yang terbayang bukan hanya pantainya, tetapi juga ribuan tenda yang berdiri di tepi laut, kegiatan generasi muda, festival masyarakat, dan semangat wisata pesisir yang hidup setiap tahun.
“Pramuka harus memberi dampak yang lebih luas. Tidak hanya untuk organisasi, tetapi juga untuk masyarakat dan daerah,” ujarnya.
Jika rencana tersebut berjalan sesuai harapan, Tanjung Lalimbue berpotensi berubah dari sekadar bentangan pantai menjadi salah satu ikon wisata baru Sulawesi Tenggara yang dikenal jauh melampaui batas Konawe. (*)
