Oleh: Tipue Sultan

ADA banyak ibu yang bermimpi melihat anaknya menikah.

Mungkin itu salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup seorang perempuan.

Melihat anak yang dulu digendong, disuapi, dimandikan, lalu tumbuh dewasa dan menemukan pasangan hidupnya.

Samsinar juga punya mimpi itu.

Sangat dekat bahkan.

Tinggal menghitung hari.

Tenda pernikahan sudah berdiri.

Persiapan sudah berjalan.

Keluarga sudah sibuk membicarakan tamu yang akan datang.

Dapur hajatan sebentar lagi mengepul.

Tetapi takdir rupanya memiliki rencana lain.

Senin petang, 17 Agustus 2026.

Sesaat setelah azan Maghrib berkumandang.

Samsinar mengembuskan napas terakhirnya.

Ia pergi ketika seluruh keluarga sedang menunggu hari bahagia putra sulungnya.

Namanya Bota.

Anak yang sebentar lagi akan duduk di pelaminan.

Anak yang selama ini menjadi harapan dan kebanggaannya.

Anak yang pernikahannya telah lama dinanti.

Namun kini, ketika hari itu hampir tiba, sang ibu justru lebih dahulu dipanggil pulang.

Tenda pernikahan masih berdiri.

Tetapi pemilik doa-doa paling panjang untuk acara itu sudah tidak ada.

Beberapa bulan terakhir, hidup Samsinar lebih banyak diisi perjuangan melawan rasa sakit.

Penyakit itu datang perlahan.

Nyeri. Bikin sakit terus-menerus

Lalu menggerogoti tubuhnya sedikit demi sedikit.

Dokter menyebutnya kanker rahim.

Saat diketahui, penyakit itu sudah berada pada fase yang berat.

Keluarga tidak menyerah.

Samsinar juga tidak menyerah.

Berbagai ikhtiar ditempuh.

Klinik dikunjungi, rumah sakit didatangi.

Pengobatan medis dijalani.

Di sela-sela itu, ia juga mendatangi orang-orang yang diyakini memiliki kemampuan pengobatan tradisional.

Ada yang menyarankan ke kota lain.

Ada yang menyebut nama seseorang.

Ada yang mengatakan masih ada harapan.

Dan seperti kebanyakan orang yang sedang berjuang melawan penyakit berat, setiap harapan sekecil apa pun akan dicoba.

Samsinar menjalaninya.

Dengan sabar.

Dengan keyakinan.

Dengan doa yang tidak pernah putus.

Sebab seorang ibu memang jarang memikirkan dirinya sendiri.

Yang ia pikirkan adalah anak-anaknya.

Samsinar meninggalkan suaminya, Darwis.

Juga tiga orang anak yang kini harus belajar menerima kenyataan yang sangat berat.

Terutama Bota.

Putra sulung yang sebentar lagi menikah.

Sulit membayangkan bagaimana perasaannya.

Di satu sisi, hari bahagia sudah di depan mata.

Di sisi lain, orang yang paling ingin ia bahagiakan justru tidak lagi ada.

Setiap anak pasti ingin ibunya hadir saat akad.

Mendengar doa-doanya.

Melihat senyumnya.

Menyaksikan matanya yang berkaca-kaca saat penghulu mengucapkan kalimat sah.

Tetapi Bota harus menjalani kenyataan yang berbeda.

Nanti, ketika kursi-kursi tamu terisi.

Ketika pelaminan dihias.

Ketika para undangan datang membawa ucapan selamat.

Akan ada satu sosok yang sangat dirindukan.

Sosok yang seharusnya duduk paling depan.

Sosok yang seharusnya menjadi orang paling bahagia hari itu.

Ibunya.

Ada lagi seorang anak yang kehilangan tempat pulang.

Namanya Khalid.

Putra bungsu Samsinar.

Usianya masih menyisakan banyak kebutuhan akan kasih sayang seorang ibu.

Masih TK, sebentar lagi SD

Kini, ia harus tumbuh dengan kenangan.

Dengan cerita-cerita tentang perempuan yang selama ini menjadi pelindungnya.

Tentang perempuan yang berjuang hingga akhir.

Tentang perempuan yang tidak pernah berhenti berharap untuk anak-anaknya.

Kematian memang selalu datang dengan caranya sendiri.

Kadang setelah seseorang menyelesaikan semua urusannya.

Kadang ketika semua orang sudah siap.

Tetapi sering kali tidak demikian.

Sering kali kematian datang ketika masih ada rencana yang belum selesai.

Masih ada janji yang belum ditunaikan.

Masih ada pelukan yang belum sempat diberikan.

Masih ada pernikahan anak yang belum sempat disaksikan.

Dan mungkin itulah yang membuat kepergian Samsinar terasa begitu menyayat hati.

Karena jarak antara harapan dan kenyataan hanya tinggal beberapa hari.

Begitu dekat.

Sangat dekat.

Tetapi tetap tidak bisa digapai.

Malam itu, keluarga berduka.

Tangis pecah di rumah yang seharusnya sedang sibuk menyambut pesta.

Orang-orang datang membawa belasungkawa.

Sementara di luar, tenda pernikahan masih berdiri.

Diam.

Menjadi saksi bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia.

Ada pesta yang sedang menunggu.

Ada duka yang lebih dulu datang.

Dan di antara keduanya, ada seorang ibu bernama Samsinar.

Yang telah berjuang sekuat tenaga untuk bertahan.

Namun akhirnya harus pergi sebelum sempat melihat putra sulungnya mengucapkan akad nikah.

Semoga Allah melapangkan kuburnya.

Dan semoga setiap doa yang pernah ia panjatkan untuk anak-anaknya tetap menemukan jalannya, meski kini ia telah lebih dulu pulang.

Arateng, Sidrap, 17 Agustus 2026. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini