Penulis:
T. J PURWITA NINGRUM

SIDRAP — Bahasa Arab selama ini kerap dipandang sebagai bahasa yang identik dengan pelajaran agama dan dianggap sulit dipelajari. Pandangan itu coba diubah oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui program pengenalan bahasa Arab bagi anak-anak dan remaja di Desa Betao, Kecamatan Pitu Riawa, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Kegiatan yang digelar pada Rabu (29/7/2026) tersebut menyasar siswa tingkat SD dan SMP. Tujuannya bukan untuk mengajarkan tata bahasa yang rumit, melainkan menumbuhkan keberanian dan ketertarikan anak-anak desa terhadap bahasa asing sejak usia dini.

Program ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN-T Unhas memperluas wawasan kebahasaan generasi muda di pedesaan. Jika bahasa Inggris selama ini lebih dikenal sebagai bahasa asing yang diajarkan di sekolah, maka bahasa Arab diperkenalkan sebagai bahasa komunikasi global yang juga memiliki banyak manfaat dalam dunia pendidikan, budaya, hingga pergaulan internasional.

Belajar Bahasa Arab dengan Cara Menyenangkan

Untuk menghilangkan kesan bahwa bahasa Arab sulit dipelajari, mahasiswa KKN-T Unhas menerapkan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.

Anak-anak diajak mengenal kosakata sederhana melalui lagu, permainan edukatif, penggunaan stiker kata, hingga latihan perkenalan diri menggunakan bahasa Arab.

Suasana belajar dibuat santai agar peserta lebih mudah memahami materi dan tidak merasa terbebani.

Pendekatan tersebut terbukti mampu menarik perhatian siswa. Mereka tampak aktif mengikuti sesi pembelajaran, menjawab pertanyaan, hingga mencoba mengucapkan kosakata dan kalimat sederhana yang diperkenalkan selama kegiatan berlangsung.

Penanggung jawab program, T. J Purwita Ningrum, menjelaskan bahwa penguasaan bahasa asing merupakan modal penting bagi generasi muda, termasuk mereka yang tumbuh di wilayah pedesaan.

“Bahasa adalah pintu masuk untuk memahami dunia. Kami ingin mengenalkan bahwa bahasa Arab, sama halnya dengan bahasa Inggris, adalah media komunikasi global yang menyenangkan dan dapat dipelajari oleh siapa saja,” ujarnya.

Menurut Ningrum, tujuan utama kegiatan tersebut bukan mengejar kemampuan berbahasa secara instan, melainkan membangun rasa percaya diri serta menghilangkan ketakutan anak-anak dalam mempelajari bahasa asing.

“Kami tidak membebankan tata bahasa yang rumit, melainkan menanamkan rasa percaya diri dan ketertarikan awal agar anak-anak di Desa Betao merasa familiar dengan bahasa asing, khususnya bahasa Arab,” katanya.

Tinggalkan Media Belajar untuk Sekolah

Selain memberikan materi secara langsung, mahasiswa KKN-T Unhas juga membagikan stiker kosakata kepada para siswa serta menyerahkan poster edukatif kepada pihak sekolah.

Media tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai sarana hafalan dan penguatan materi setelah kegiatan berakhir.

Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada satu kali pertemuan, tetapi dapat terus dimanfaatkan oleh siswa dalam proses belajar sehari-hari.

Ningrum berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun budaya belajar bahasa asing di lingkungan sekolah maupun masyarakat Desa Betao.

“Kami berharap anak-anak Desa Betao makin percaya diri dan tidak takut belajar bahasa asing. Semoga kegiatan ini menjadi pemantik awal agar semangat belajar mereka terus hidup, bahkan setelah program KKN ini selesai,” ujarnya.

Melalui program ini, mahasiswa KKN-T Universitas Hasanuddin tidak hanya menghadirkan kegiatan edukatif bagi masyarakat Desa Betao, tetapi juga membuka ruang baru bagi generasi muda Sidrap untuk mengenal dunia yang lebih luas melalui bahasa.

Dari sebuah desa di Kecamatan Pitu Riawa, semangat belajar bahasa asing itu diharapkan tumbuh dan menjadi bekal bagi anak-anak dalam menghadapi tantangan masa depan.(*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini