Enrekang, katasulsel.com — Ribuan orang datang ke Alun-alun Abu Bakar Lambogo pada Senin pagi untuk menyaksikan upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.
Mereka melihat Bupati Enrekang Yusuf Ritangnga sebagai inspektur upacara.
Mereka mendengar pembacaan Proklamasi.
Mereka menyaksikan barisan pasukan yang berdiri rapi.
Namun ada satu kisah yang diam-diam menjadi jantung dari seluruh prosesi pagi itu.
Kisah tentang 70 anak muda Enrekang yang berjalan menuju tiang bendera.
Mereka bukan pejabat.
Bukan tokoh politik.
Bukan pula orang-orang yang namanya setiap hari muncul di media.
Mereka adalah pelajar.
Anak-anak Enrekang yang beberapa bulan lalu masih duduk di ruang kelas, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas sekolah, dan menjalani kehidupan seperti remaja pada umumnya.
Tetapi pada pagi 17 Agustus 2026, mereka memikul tugas yang jauh lebih besar dari usia mereka.
Mereka membawa kehormatan daerah.
Mereka membawa simbol negara.
Mereka membawa Merah Putih.
Saat pasukan pengibar memasuki lapangan, suasana mendadak berubah. Langkah mereka terdengar serempak. Tatapan mereka lurus ke depan. Tidak ada ruang untuk kesalahan.
Sebab jutaan pasang mata mungkin tidak melihat mereka.
Tetapi ribuan pasang mata di Enrekang pagi itu melihat setiap gerakan yang mereka lakukan.
Di bawah komando Ipda Muh. Asrian Jaya Tahir, para anggota Paskibraka bergerak dengan disiplin yang lahir dari latihan panjang dan pengorbanan waktu.
Mungkin tidak banyak yang tahu berapa kali mereka berlatih di bawah terik matahari.
Mungkin tidak banyak yang tahu berapa kali mereka harus mengulang gerakan demi mencapai kesempurnaan.
Yang terlihat publik hanyalah beberapa menit saat bendera dikibarkan.
Padahal di balik beberapa menit itu, tersimpan berbulan-bulan kerja keras.
Dan ketika Merah Putih akhirnya bergerak naik menuju puncak tiang, wajah-wajah tegang itu perlahan berubah menjadi lega.
Tugas mereka selesai.
Bendera berhasil berkibar.
Indonesia kembali berdiri tegak di langit Enrekang.
Di tribun kehormatan, Bupati Yusuf Ritangnga bersama Wakil Bupati Andi Tenri Liwang Latinro dan unsur Forkopimda menyaksikan momen tersebut dengan penuh kebanggaan.
Tetapi sesungguhnya, pagi itu bukan hanya tentang keberhasilan mengibarkan bendera.
Pagi itu adalah tentang kepercayaan.
Tentang bagaimana sebuah daerah mempercayakan simbol paling sakral bangsa kepada generasi mudanya.
Dan generasi muda itu menjawab kepercayaan tersebut dengan sempurna.
Mungkin nama-nama mereka tidak disebut satu per satu dalam upacara.
Mungkin setelah hari ini mereka akan kembali menjadi siswa biasa.
Namun bagi Enrekang, mereka telah menuliskan jejak kecil dalam sejarah daerah.
Sebab setiap Hari Kemerdekaan selalu memiliki tokohnya sendiri.
Dan pada 17 Agustus 2026, salah satu tokoh itu adalah 70 pelajar yang berjalan perlahan menuju tiang Merah Putih, lalu pulang dengan membawa kebanggaan seluruh Enrekang. (FungFi)
