Gowa, Katasulsel.com — Sebuah paket kecil berisi holder handphone mungkin terlihat sepele. Namun bagi seorang pensiunan pegawai BUMN di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, paket gratis itulah yang disebut menjadi pintu masuk kehilangan uang hingga hampir Rp900 juta.

Yang membuat kasus ini mengundang perhatian, korban tidak hanya menguras tabungannya. Ia bahkan disebut sampai menggadaikan rumah demi memenuhi permintaan yang diyakininya sebagai bagian dari investasi yang menjanjikan keuntungan besar.

Korban berinisial AM, seorang pensiunan yang pernah bekerja selama 24 tahun di salah satu perusahaan BUMN di Papua.

Menurut kuasa hukumnya, Machfud Mahbub, kerugian yang dialami korban terjadi sangat cepat.

“Hanya dalam kurun waktu satu hari saja yaitu 1 Oktober. Beliau sampai menguras seluruh rekeningnya bahkan sampai menggadaikan rumahnya,” kata Machfud dalam konferensi pers di Sungguminasa, Selasa (6/10/2026).

Berawal dari Chat WhatsApp

Kasus ini bermula dari sebuah percakapan yang tampak biasa.

AM berkenalan dengan seseorang melalui WhatsApp. Komunikasi kemudian berlangsung intens selama beberapa waktu.

Tidak lama kemudian, korban menerima paket hadiah gratis.

Bukan satu kali, melainkan tiga kali pengiriman yang dikirim langsung ke rumahnya melalui kurir.

Isi paket tersebut relatif sederhana, berupa aksesori penyangga telepon genggam atau holder handphone.

Di sinilah yang membuat modus ini berbeda.

Pelaku tidak langsung menawarkan investasi atau meminta uang.

Mereka terlebih dahulu membangun kepercayaan.

Paket gratis itu diduga menjadi cara untuk membuat korban yakin bahwa orang yang berkomunikasi dengannya benar-benar nyata dan dapat dipercaya.

Dari Hadiah Gratis ke Grup Investasi

Setelah hubungan terbangun, korban kemudian dimasukkan ke dalam sebuah grup WhatsApp.

Di dalam grup itu, AM diperkenalkan pada sebuah program investasi yang diklaim mampu memberikan keuntungan besar dalam waktu singkat.

Korban juga disebut mendapat pendamping atau mentor yang terus membimbingnya.

Awalnya, nominal yang diminta relatif kecil.

AM hanya diminta melakukan top up sebesar Rp500 ribu.

Setelah transfer dilakukan, saldo investasi muncul dalam aplikasi yang digunakan.

Korban kemudian diperlihatkan adanya keuntungan sehingga semakin yakin bahwa investasi tersebut benar-benar berjalan.

“Kemudian di dalam grup itu katanya nanti akan ada mentor yang membimbing klien kami agar sampai dapat keuntungan berlipat-lipat,” ujar Machfud.

Saat Keserakahan dan Kepercayaan Bertemu

Banyak kasus serupa tidak selalu berhasil karena teknologi yang canggih.

Justru sebaliknya.

Pelaku biasanya memanfaatkan dua hal paling sederhana: kepercayaan dan harapan memperoleh keuntungan cepat.

Korban diperlihatkan angka keuntungan yang terus bertambah.

Ketika seseorang melihat uangnya seolah berkembang, naluri untuk menambah modal biasanya ikut meningkat.

Di titik itulah nominal setoran mulai membesar.

Korban terus diminta melakukan top up dengan jumlah yang semakin tinggi.

Sedikit demi sedikit, uang yang sebelumnya tersimpan aman di rekening berpindah ke pihak yang belum tentu diketahui identitas sebenarnya.

Mengapa Korban Bisa Sampai Gadaikan Rumah?

Pertanyaan yang sering muncul dalam kasus seperti ini adalah: mengapa korban tetap mengirim uang meski jumlahnya sudah sangat besar?

Psikolog keuangan menyebut fenomena ini sebagai “sunk cost effect”.

Ketika seseorang sudah menanamkan uang dalam jumlah tertentu, ia cenderung terus menambah dana karena berharap modal yang sudah terlanjur masuk bisa kembali.

Semakin besar kerugian, semakin besar pula dorongan untuk menyelamatkannya.

Akibatnya, korban sering kali tidak berhenti meski tanda-tanda penipuan mulai terlihat.

Dalam kasus AM, kondisi itu disebut membuatnya bukan hanya menghabiskan tabungan, tetapi juga sampai menggadaikan rumah.

Modus Lama dengan Kemasan Baru

Kasus yang dialami pensiunan BUMN di Gowa ini memperlihatkan bagaimana modus penipuan digital terus berkembang.

Bukan lagi sekadar pesan singkat yang menjanjikan hadiah atau undian.

Pelaku kini membangun hubungan personal, mengirim hadiah fisik, membuat grup komunitas, menghadirkan mentor, hingga menampilkan aplikasi yang terlihat meyakinkan.

Semua dirancang untuk menciptakan satu kesan: investasi tersebut tampak nyata.

Padahal, dalam banyak kasus, keuntungan yang ditampilkan hanya angka di layar.

Ketika korban ingin menarik dana atau diminta menambah setoran lebih besar, barulah kerugian sebenarnya mulai terlihat.

Kasus yang menimpa AM menjadi pengingat bahwa penipuan digital tidak selalu dimulai dari ancaman atau paksaan.

Kadang, semuanya justru dimulai dari sesuatu yang terlihat ramah.

Seperti sebuah pesan WhatsApp.

Atau paket hadiah gratis yang datang ke depan rumah.(*)