Oleh: Edy Basri
Julia sudah tidak bisa bercerita.
Usianya baru 11 tahun.
Ia anak dengan gangguan komunikasi.
Kalau anak lain bisa menangis lalu berkata, “Saya sakit.”
Julia mungkin hanya bisa menangis.
Kalau anak lain bisa menunjuk lalu berkata, “Dia yang melakukan.”
Julia mungkin hanya bisa menunjuk.
Itu pun kalau masih sempat.
Kini Julia sudah tidak bisa melakukan keduanya.
Ia sudah pergi.
Yang tersisa hanya pertanyaan.
Banyak sekali pertanyaan.
Dan satu keluarga yang harus hidup dengan kehilangan.
Namanya Julia Risky Ramadiana.
Panggil saja Julia.
Anak perempuan 11 tahun dari Merauke, Papua Selatan.
Pada 27 Oktober 2025, Julia dilaporkan hilang dari rumah.
Keluarganya panik.
Dicari ke mana-mana.
Kemudian kabar paling buruk datang.
Julia ditemukan sudah meninggal.
Lokasinya tidak jauh.
Sekitar 100 meter dari rumah.
Hanya 100 meter.
Kadang-kadang jarak 100 meter terasa sangat dekat.
Tetapi bagi sebuah keluarga yang sedang mencari anaknya, 100 meter bisa terasa seperti seluruh dunia.
Awalnya orang percaya Julia menjadi korban penculikan.
Ada dugaan pencurian.
Narasi itu terasa masuk akal.
Seorang anak hilang.
Lalu ditemukan meninggal.
Maka orang mencari orang lain.
Orang luar.
Orang asing.
Orang yang dianggap datang dari luar rumah.
Ayah Julia, MRP alias Maulana, berada di sisi keluarga.
Ia kehilangan anak.
Ia ikut berada dalam suasana duka.
Ia mendapat simpati.
Begitulah manusia.
Kita mudah bersimpati kepada orang yang menangis.
Kita percaya kepada orang yang tampak paling kehilangan.
Apalagi kalau yang hilang adalah anak sendiri.
Siapa yang tega mencurigai seorang ayah?
Mungkin pertanyaan itu pula yang dulu ada di kepala banyak orang.
Tetapi polisi mempunyai pekerjaan yang lebih berat.
Polisi tidak boleh hanya melihat siapa yang menangis.
Polisi harus mencari siapa yang benar.
Hampir sepuluh bulan.
Penyelidikan berjalan.
Satu per satu orang dipanggil.
16 saksi diperiksa.
Empat ahli dimintai keterangan.
26 barang bukti diamankan.
Kuburan Julia bahkan dibuka kembali.
Dilakukan ekshumasi.
Dilakukan autopsi.
Jejak digital diperiksa.
CCTV dilihat.
Cerita awal diuji.
Bukan sekali.
Berkali-kali.
Sampai akhirnya muncul sesuatu yang membuat arah perkara berubah.
Ada ketidaksesuaian antara cerita awal dengan bukti yang ditemukan.
Dan polisi mulai melihat perkara ini dari arah yang berbeda.
Bukan lagi sekadar penculikan.
Bukan lagi sekadar pencurian.
Bersambung………..
