Melainkan sesuatu yang jauh lebih dekat.
Terlalu dekat.
Pada Agustus 2026, ayah Julia, MRP, ditetapkan sebagai tersangka utama.
Sulit membayangkan perasaan keluarga ketika mendengar kabar itu.
Sebab ada jenis kabar yang membuat seseorang kehilangan kata-kata.
Ini salah satunya.
Ayah.
Menjadi tersangka.
Dalam perkara kematian anaknya sendiri.
Anak yang dahulu dicari.
Anak yang dahulu ditangisi.
Anak yang dahulu mungkin dipanggil berkali-kali:
βJuliaβ¦β
βJuliaβ¦β
βJuliaβ¦β
Tetapi Julia tidak pernah menjawab.
Ada ironi yang sangat pahit di sini.
Julia adalah anak dengan gangguan komunikasi.
Ia memang sulit berbicara.
Tetapi setelah ia meninggal, justru semua orang berbicara tentang dirinya.
Polisi berbicara.
Saksi berbicara.
Ahli berbicara.
Warganet berbicara.
Media berbicara.
Keluarga berbicara.
Semua berbicara.
Hanya Julia yang tidak bisa.
Padahal mungkin Julia-lah yang paling ingin didengar.
Kalau saja ia bisa bicara.
Kalau saja ia masih hidup.
Mungkin ia bisa berkata:
βAku tahu siapa yang melakukan.β
Mungkin ia bisa berkata:
βAku takut.β
Mungkin hanya:
βAyahβ¦β
Tetapi semua kemungkinan itu sekarang sudah menjadi angan-angan.
Polisi juga menyebut MRP positif menggunakan ganja.
Tetapi itu bukan berarti otomatis menjadikannya pembunuh.
Hukum tidak bekerja seperti itu.
Positif narkotika adalah satu fakta dalam penyidikan.
Bukan vonis.
Dugaan motif pun masih didalami, termasuk kemungkinan persoalan internal keluarga atau kekerasan dalam rumah tangga.
Semuanya masih harus dibuktikan.
Karena MRP tetap memiliki hak atas asas praduga tak bersalah.
Tetapi satu hal sudah berubah.
Dulu ia dicari sebagai orang yang kehilangan anak.
Kini ia diperiksa sebagai orang yang diduga paling tahu tentang kematian anak itu.
Perubahan posisi itu barangkali adalah bagian paling menyakitkan dari perkara ini.
Bayangkan seorang ibu.
Pagi-pagi melihat kamar anaknya.
Sepi.
Tas sekolah masih ada.
Bersambung………..
